Posted in Drama, Family, Fanfiction, Friendship, Hurt, life, Marriage Life, Romance, Sad, School Life

[SeoHunHan Drabble Complete] Memories to 60 Second

[SeoHunHan Drabble Complete]

remake cover memories drabble

First
60 Second

~60 Second~
Kupandangi dirimu dengan balutan gaun putih. Semakin kuamati, kau semakin cantik…Nyaris tanpa kekurangan. Kau memang sangat cantik, bahkan sejak pertama kali kita bertemu….
“Luhan….Bagaimana penampilanku?” Tanya Seohyun-nama yeoja itu
“Selalu seperti biasanya” Jawabku, sambil menampakkan senyum
“Jinjja? Ah~ Aku masih terlihat chubby yah?”
“Bukan begitu….Maksudku, kau tetap cantik seperti biasa”
Akhirnya aku memiliki keberanian mengatakannya. Selama ini aku selalu mengatakan dia si chubby tanpa pernah sekalipun memujinya cantik, walaupun dalam hatiku aku selalu menganggapnya sebagai wanita tercantik yang pernah kutemui di hidupku….
“Jadi selama ini aku cantik? Kupikir hanya Sehun yang beranggapan seperti itu, ternyata kau juga yah, hehehe”
Melihatnya tersenyum seperti ini, membuat hatiku sangat senang. Namun mendengarnya menyebut nama Oh Sehun, hatiku tiba tiba merasa perih…..
“Eng….Oppa….”
Aku tersentak ketika mendengar Seohyun memanggilku dengan sebutan oppa. Selama ini dia selalu menolak untuk memanggilku dengan sebutan oppa, meskipun aku lebih tua daripadanya. Ketika aku menanyai alasannya tidak memanggilku oppa, dia hanya berkata “karena kita dekat”
Yah….Kita memang dekat. Bahkan sejak kita duduk di bangku sekolah dasar. Kita memang dekat….Hingga Oh Sehun hadir diantara kita. Dialah yang berhasil memiliki cintamu, dialah kini yang akan berada di dekatmu. Sedangkan aku….Cukup memandangimu dari kejauhan dengan rasa cinta yang membuatku sakit….
“Kau….Memanggilku….oppa?”
“Ne. Sebagai hadiah terakhir dariku”
Dari kedua mata indahnya, tampak bulir bening. Bulir bening itu kini membanjiri kedua sisi wajahnya. Kenapa kau menangis Seohyun?
“Oppa…..”
Seohyun berlari kearahku, dan tiba tiba memelukku. Terdengar isak tangisnya yang semakin keras. Kulingkarkan tanganku, memeluknya erat. Membiarkan perasaan ini meluap. Aku tak peduli, meski dia takkan menjadi milikku… Aku hanya ingin terus memeluknya seperti sekarang…
***

~60 Second~
“Oppa….60 detik yang lalu, kau datang menemuiku. Lalu 60 detik setelahnya, aku bisa memelukmu.Tapi….Kenapa 60 detik kemudian aku akan kehilanganmu?”
Seohyun menatapku dengan mata yang masih dipenuhi cairan bening. Menyakitkan bagiku ketika melihatnya menangis….
“Karena….60 detik setelah ini, kau akan bersama Oh Sehun….”
Suasana berubah menjadi hening. Yang terdengar olehku hanya isak Seohyun dan suara detak jantungku. Seohyun melepas pelukannya perlahan dan menghapus jarak antara kami. Nafasnya kini bisa kurasakan. Kami berciuman….. Ciuman perpisahan

~60 Second~
Aku berdiri di depan pintu gereja. Memandangi punggung Seohyun yang semakin menjauh. Dan kini…. Oh Sehun telah berdiri berdampingan dengannya. Menggenggam erat tangannya dan saling melingkarkan cincin sebagai tanda bahwa mereka telah terikat sumpah untuk bersama selamanya….
Teng….. terdengar bunyi lonceng gereja berdentang. Bersamaan dengan itu, air mata tak kuasa kubendung. Aku menangis. Merelakannya bersanding bersama orang lain, membiarkannya bahagia. Kini….Aku harus melepasnya, bukan untuk semenit, namun untuk selama lamanya…..
Drrttt….. Terdengar suara getaran dari saku jasku. Kurogoh saku jas dan mengambil handphone. Aku terkejut melihat sebuah pesan singkat yang ternyata dikirim oleh Seohyun

From  : Seohyun

Membaca pesannya, membuat air mataku makin deras. Aku menyesali semuanya. Kenapa aku tak pernah bisa jujur….. Kenapa aku tak pernah bisa memperlihatkan betapa aku menyukainya….. Dan kenapa aku bisa membiarkannya, tanpa mencoba mempertahankannya agar tetap di sisiku……

“saranghae…..”
=60 Second=

Rain
Kupandangi  yeoja disampingku, sedang tertidur dengan lelapnya. Mungkin karena di luar sedang turun hujan, dia pun tertidur. Bibirku terus menyunggingkan senyum melihat wajah manisnya.
“Luhan…..”
Deg… Hatiku tersentak ketika dia bergumam menyebut nama Luhan, namja yang menjadi sahabat Seohyun dan juga aku. Mungkinkah dia….Masih menyukai Luhan?
Kupandangi wajahnya sambil membelai rambut panjang yang selalu dibiarkannya terurai itu. Betapa aku merasa seperti namja yang menyedihkan sekarang ini. Meski Seohyun adalah yeojachinguku, namun aku meragukannya. Aku ragu akan perasaannya padaku…. Bahkan aku sempat berpikir untuk mengakhiri hubungan ini dan membiarkannya bersama Luhan. Namun….Hati kecilku berontak, tak mengizinkan aku untuk melakukannya. Rasa cintaku sama besarnya dengan perasaanku yang ingin selalu berada di sisinya, memilikinya dan melindunginya…..
Pyaaarrr…. terdengar suara petir yang cukup keras. Seohyun terkejut dan memelukku. Kurasakan tubuhnya yang bergetar. Dia begitu takut mendengar suara petir.
“Seo-ah…..Tenanglah…”
Kuusap lembut punggungnya. Terdengar olehku suara isak tangisnya. Dia pun makin mempererat pelukannya, begitupun denganku.  Setelah beberapa saat, dia mulai merenggangkan pelukannya dan menatapku dengan kedua mata indahnya.
“Uljima, Seo-ah…. Aku akan disini bersamamu”
Kuusap air matanya dengan kedua telapak tanganku. Kugenggam erat kedua tangannya yang masih bergetar.
Kreekk…. terdengar suara pintu yang dibuka dan disusul dengan suara langkah kaki yang terdengar semakin dekat. Dan kemudian terlihat sosok yang tentunya sudah tidak asing bagiku.
“Luhan-ah…..”
“Ah, kalian masih menungguku? Kenapa kalian tidak…..”
Seohyun tiba tiba berlari menghampiri Luhan dan memeluknya erat. Tangisnya pun pecah, bahkan lebih dari yang tadi. Tubuhnya terlihat gemetar. Sedangkan Luhan tampak terkejut dan menatapku. Aku merasakan terkejut dan sedih disaat yang bersamaan. Namun aku berusaha menyembunyikan rasa itu dengan melayangkan senyum pada Luhan
“Gwenchana…..”
Ucapku setengah berbisik pada Luhan. Dia pun mengalihkan pamdangannya dariku dan perlahan menepuk punggung Seohyun lembut. Entah ini hanya perasaanku saja, atau memang benar Seohyun mencintai Luhan dan bukan aku?
***

~Rain~
Hujan ternyata masih turun. Bahkan bertambah deras di banding sebelumnya. Aku bersama Luhan dan Seohyun hanya bisa memandangi hujan sambil menghela nafas.
“Hm….Sehun…”
“Hm?”
“Kalian pakai saja payungku. Aku akan menunggu taxi”
“Tapi…..”
“Tenanglah… Aku akan….”
“Andwae! Kita tetap harus pulang bertiga”
“Ya, chubby. Kau pulanglah duluan bersama Sehun. Aku….”
“Yasudah! Ayo kita pulang saja Sehun”
Seohyun menekuk wajahnya dan langsung menarik tanganku setelah mengambil payung dari tangan Luhan. Aku menengok kepada Luhan. Kulihat namja itu memandangiku dan Seohyun sambil tersenyum. Namun aku merasa ada kesedihan yang terpancar saat dia menatap kami. Apa mungkin….
Seohyun menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan berlari menghampiri Luhan, menariknya menuju ke tempatku berdiri.
“Kita pulang bertiga, otthe?”
Seohyun menyunggingkan senyumnya dan kami pun berjalan bersama
***

~Rain~
“Eoh, busnya datang!!!”
Seohyun berseru, dan tentu saja aku, Luhan serta beberapa orang yang berada di sekitar kami tersentak. Seohyun terkadang memang suka bersikap kekanakkan, namun itulah salah satu bagian dari dirinya yang aku suka….
“Ayo kita naik…..”
Seohyun menarik tanganku dan Luhan bersamaan. Ketika kami tiba di depan pintu bus, tanganku terlepas dari Seohyun karena seorang ajjuma yang melintas. Saat Seohyun dan Luhan telah berada di dalam, aku terpaksa harus masuk sambil berdesakkan dengan beberapa orang yang juga akan naik ke dalam.
“Sehun…..Kami disini”
Terlihat olehku Seohyun dan Luhan yang melambai lambaikan tangan kearahku. Tangan keduanya masih saling bergenggaman…..
“Ya! Kalian berisik sekali….”
Seorang ajjuma tampak memarahi keduanya. Bahkan ajjuma itu menepuk punggung Luhan dengan keras, membuatnya meringis kesakitan.  Aku pun segera menghampiri mereka dan kami pun terpaksa berdiri karena tak ada lagi tempat duduk yang tersisa. Kulayangkan sejenak pandanganku, menatap tangan mereka yang masih saja bergenggaman. Bis pun melaju….
***

~Rain~
Menjelang pernikahanku dan Seohyun, Luhan datang dengan memakai jas hitam. Membuat penampilannya terlihat layaknya pria dewasa, meskipun menurutku wajahnya masih saja  innocent….
“Chukkhae, Sehun ah….”
“Gomawo….” Ucapku “Temuilah Seohyun. Dia ada di sana”
“Ne….”
Luhan pun melangkah pergi untuk menemui Seohyun.Kulihat Luhan sedikit mendongak ke atas sebelum dia masuk dan menemui Seohyun. Yang aku tahu, itu adalah kebiasaan Luhan ketika dia menahan tangis. Aku menyadari jika dia menyukai Seohyun, tapi….Aku pun juga menyukainya. Kami menyukai yeoja yang sama…..
***

~Rain~
Seohyun terlihat cantik dengan gaun putih dan buket bungan di tangannya. Dia kini berdiri di depan pintu dan perlahan lahan melangkah ke tempatku berdiri bersama Jo Ajjushi, ayahnya. Ketika memandangi Seohyun, mataku tak sengaja menangkap sosok Luhan yang sedang berdiri di  depan pintu gereja….
“Mianhae Luhan-ah….”Ucapku lirih
Kami pun mengucap janji setia di depan pastur dan beberapa undangan yang hadir. Setelah itu aku dan Seohyun mengedarkan pandangan ke tempat para undangan. Mataku terus mencari sosok Luhan, namun sayang dia tak berada di manapun. Betapa dalamnya kau mencintai Seohyun hingga tak sanggup untuk menyaksikan kami berdiri di altar(?) bersama?
Setelah acara pernikahan kami, aku memutuskan untuk mencari Luhan di sekitar lingkungan gereja. Dan… Benar saja, ternyata Luhan tengah duduk di bangku taman dengan berlinang air mata. Bahkan setelah melihat ponselnya, tangisnya makin bertambah….
“Saranghae”
Suara Luhan terdengar olehku ketika dia mengatakan saranghae. Kata itu….Pasti tertuju untuk Seohyun….
Tes tes tes…. *benernggakbunyihujanturuntuhgini?* tetes tetes air hujan mulai turun.Namun hal itu tak kuhiraukan. Aku masih saja memandangi sosok Luhan yang sedang terluka, terluka karena aku…..Karena aku yang kini telah bersama Seohyun. Dia juga menyukaimu, Luhan-ah…. tapi, aku pun sama sepertimu. Aku juga mencintainya….

=Rain=

Hard to Say “I Love U…..”

~ Hard to Say “I Love U…”~
“Yeoja chubby”
Mataku langsung menatap tajam ke pemilik suara itu. Benar saja, si pemilik suara itu sedang berdiri di belakangku, tersenyum dan melambaikan tangan layaknya anak kecil. Namja itu menghampiriku dan segera saja kulayangkan kepalan tangan dan kudaratkan tepat di lengannya yang kurus itu…..
“Aw! Sakit tau!”
“Ya! Xi Luhan…. Berani sekali kau mengataiku chubby. Aku kan sudah bilang jangan panggil aku begit…..”
Belum sempat kulanjutkan kata kataku, namja bernama Luhan itu mencubit kedua pipiku dan mencubit hidungku. Aku merasa kesal, namun juga senang… Terlebih lagi melihat senyum manisnya itu. Sungguh, membuatku jadi tak bisa marah padanya….
“Kalian memang pantas dikatakan sebagai cute couple,hahaha”
Mendengar beberapa siswa yang menggoda kami, aku pun reflek mendaratkan tanganku tepat menghantam telapak tangannya.
“Ya! Lepaskan Luhan…..”
“Aish….Bisakah kau katakan itu tanpa harus memukulku? Sakit tau…. Dasar chubby”
“Mwo? Yaish…..Xi Luhan….. Kau….”
Ketika akan kulayangkan pukulanku, terdengar lagi godaan dari beberapa siswa. Bahkan kini kurasa mereka yang menggoda kami semakin banyak saja….
“Hei…..Cute couple. Jangan bertengkar terus, bisa bisa kalian akan cerai,hahaha”
“Benar! Ayo baikan….”
“Ya!!!!”
Aku berteriak saking kesalnya. Mereka terlihat terkejut dan bahkan beberapa mengataiku galak. Membuat emosiku makin menjadi….
“Ckckck….Kalian ini. Aku dan Seo itu hanya teman” Ucapnya sambil merangkulku “Dan lagipula tenaganya itu tidak seperti yeoja,jadi tidak mungkin kami akan berpacaran…. Bisa bisa aku dipukuli setiap hari,hehehe”
Jleb….. Ucapan Luhan membuat hatiku terasa sakit. Benarkah dimatanya aku ini tidak seperti seorang yeoja? Benarkah kami hanya sebatas teman saja?
“Hah….Si…Siapa juga yang mau berpacaran denganmu, eoh? Lagipula, tipe namja idamanku itu harus selalu bisa memujiku, bukannya mengejekku”
Kata kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Sebenarnya aku tak bermaksud untuk mengatakan hal seperti itu….. Luhan bahkan tampak terkejut ucapanku barusan. Dan….Entahlah, aku merasa sekilas aku bisa menangkap rasa sedih yang terpancar dari kedua matanya…

***

~ Hard to Say “I Love U…”~
Siang itu, aku bersama Luhan duduk di atap seperti biasanya. Menikmati langit biru sambil memainkan gelembung sabun yang dibawa Luhan. Aku paling suka saat saat seperti ini. Saling menyandarkan punggung kami masing masing, bercanda tawa dan menikmati waktu siang hari. Meski terik, aku seakan tak  mempedulikannya….
“Seo-ah….”
“Waeyo?”
“Ada seseorang yang ingin kukenalkan padamu”
“Nugu?”
Aku menghentikan kegiatan meniup gelembung sabun dan menatap Luhan. Dia menyunggingkan senyum, lalu berjalan menuju pintu. Ketika dia membukakan pintu, seorang namja pun masuk. Namja dengan kulit putih itu tersenyum padaku, dan aku pun membalas senyumnya itu.
“Seo-ah….Ini dia orang yang kumaksud itu”
“Annyeong. Sehun imnida….”
“Oh,annyeong…Seohyun imnida”
“Ya~ Kalian jangan terlalu sopan begitu. Santai saja, otthe?”
“Ish…Dasar”Cibirku
Mendengar cibiranku(?) Luhan dengan cepat mencubit pipiku. Karena kesal, aku pun balas mencubit pipinya. Tingkah kekanakkan kami ini lantas membuat Sehun terkekeh….
“Kalian…..”
“Andwae! Kami tidak pacaran!!!”
“Ah, begitu yah…..Syukurlah”
***

~ Hard to Say “I Love U…”~
Sambil menunggu Luhan yang sedang mengikuti ujian perbaikan, aku dan Sehun memutuskan untuk ke perpustakaan. Biasanya di jam seperti saat ini, perpustakaan telah sepi. Aku dan Sehun memiliki kesamaan, yaitu sama sama menyukai tempat yang sepi dan tenang. Dan kini, kami telah resmi berpacaran…
Hujan turun dengan deras diluar sana. Rasa kantuk tiba tiba menyerang, memaksa kedua mataku ini untuk terpejam hingga akhirnya aku mulai masuk ke alam mimpi….
“Seo-ah…..”
Suara Luhan tertangkap oleh indra pendengaranku. Aku pun menengok, dan mendapati Luhan yang sedang tersenyum. Memandangiku, kemudian perlahan mendekatiku….. Tiba tiba, sosok Luhan lenyap dan bersamaan dengan itu aku pun terjaga….
Pyaaarrr…. terdengar olehku suara gemuruh petir yang cukup keras. Tubuhku reflek memeluk Sehun yang sedang duduk di sampingku. Tubuhku gemetar saking takutnya…
“Seo-ah….Tenanglah…..”
Sehun berbisik lembut.Dia mencoba menenangkanku dengan mengusap punggungku lembut. Hal itu membuatku menangis. Makin kupererat pelukanku padanya, dan begitupun sebaliknya. Setelah beberapa saat, aku melepas pelukanku dan menatapnya…..
“Uljima, Seo-ah…. Aku akan disini bersamamu”
Sehun mencoba menenangkanku lagi. Dia mengusap airmataku dengan kedua telapak tangannya itu. Lalu, digenggamnya tanganku….
Kreekk…. terdengar suara pintu yang dibuka dan disusul dengan suara langkah kaki yang terdengar semakin dekat. Dan kemudian terlihat sosok yang tentunya sudah tidak asing bagiku.
“Luhan-ah…..”Ucap Sehun. Luhan? Jadi dia sudah datang?
“Ah, kalian masih menungguku? Kenapa kalian tidak…..”
Rasanya aku seperti dikendalikan hatiku saat ini. Aku berlari, berhambur memeluk namja yang telah lama bersahabat denganku ini. Aku bahkan tak sempat memikirkan perasaan sehun yang tentunya melihat hal ini. Aku seakan akan dikuasai hasratku dan terus memeluk Luhan, menumpahkan segala rasa tanpa ragu….
Ketika aku menangis, kurasakan telapak tangan Luhan menepuk nepuk punggungku pelan. Aku merasa nyaman dengan perlakuannya itu. Aku ingin memeluknya seperti sekarang….
***

~ Hard to Say “I Love U…”~
Kulihat sosok Luhan yang sedang berdiri di depan ruangan. Dia menampakkan senyumnya, senyum yang selalu kurindukan. Senyum yang berarti bagiku….
Hari ini, aku memanggilnya dengan panggilan oppa sebagai hadia terakhirku untuknya. Hadiah perpisahan…..
“oppa….”
Tak kuasa aku menahan tangis. Aku berlari dan berhambur memeluknya. Tangisku makin pecah, dan Luhan membalas pelukanku…. Bersama dengan airmata ini, kucurahkan segala rasa….
“Oppa….60 detik yang lalu, kau datang menemuiku. Lalu 60 detik setelahnya, aku bisa memelukmu. Tapi….Kenapa 60 detik kemudian aku akan kehilanganmu?”
Kuucapkan kata kata itu dan menatapnya. Wajah tampannya…. Kini aku bisa melihatnya lagi. Aku benar benar merindukannya…. Merindukan Xi Luhan
“Karena….60 detik setelah ini, kau akan bersama Oh Sehun”
Deg…. Hatiku tersentak saat dia mengatakan hal itu.  Hatiku berkata bahwa aku akan kehilangan Luhan untuk selamanya. Hal ini membuat logikaku seakan tak berfungsi. Tubuhku bergerak mendekati Luhan. Kini kurasakan nafas kami seakan menyatu saat bibir kami menyatu…… Aku menciumnya….Untuk yang terakhir kali…..
***
Kini, aku berdiri di depan pintu gereja…. Kulihat tuan Oh-ayah Sehun sedang memandangiku sambil tersenyum. Sementara itu ummaku yang duduk di kursi paling depan,menatapku dan tatapannya seakan memberikan semangat untukku. Aku berusaha meyakinkan hatiku untuk melangkah, menghampiri Oh Sehun yang telah berdiri di depan altar…..
“Goodbye Luhan…..” ucapku lirih
Aku dan Sehun mengucap janji setia di depan semuanya. Dan ketika semuanya selesai, tak kudapati sosok Luhan diantara para tamu undangan. Dan Sehun pun memohon izin untuk berkeliling di sekitar lingkungan gereja, katanya dia ingin menghilangkan rasa gugupnya….
Aku pun memandangi jendela dan kulihat sosok Luhan yang tengah duduk di bangku taman.Aku mengambil ponsel dan mulai menyibukkan diri dengan mengetik pesan…..Untuk Luhan….

To  : Luhan
60 detik…..
Kau datang menemuiku
60 detik…..
Kita bersama
Dan…. 60 detik…..
Kita berpisah….
Aku tersenyum pahit sambil memandangi layar ponselku. Menatap foto kami berdua. Foto itu diambil ketika kami berjalan ke taman hiburan, berdua…..
Tak kuasa kutahan air mata ini. Aku berlari ke belakang gereja, melempar ponselku dan kemudian menangis. Tubuhku kini basah oleh air hujan…..Bersama dengan hujan yang semakin deras, kulepaskan segala rasa. Sibuk merutuki diri sendiri, sibuk menangisi cinta ini….. Sulit, mengatakannya langsung dihadapanmu…..
“Saranghae…..Luhan-ah…… Saranghae”

=Hard to Say I Love U=

Mianhae…. Saranghae…..
~Mianhae…. Saranghae….~
Cahaya dengan berbagai warna menghiasi sepanjang jalan yang kulalui. Mataku tak henti memandang ke sekitar. Dengan beralaskan mantel, sarung tangan rajutan dan sebuah syal aku berjalan menyusuri sudut kota di malam hari…..
“Xi Luhan…..”
Mendengar namaku dipanggil, aku pun menoleh. Mencari sumber suara tersebut, namun tak kutemukan, hingga…..
“Kena kau!”
Kurasakan sebuah jemari menyentuh pipiku. Aku menoleh, mendapati sosok yeoja dengan rambut hitam tergerai. Yeoja itu menampakkan senyum yang mampu membuatku berdebar tak karuan jika melihatnya, terlebih dari jarak yang terbilang cukup dekat seperti sekarang….
“Seo-ah?”
“Ne….Ini aku, Seo Jo Hyun…..”
Sekali lagi yeoja bernama Seohyun menampakkan senyum indahnya. Aku menyukai sikapnya yang seperti itu. Dia masih sering bersikap kekanakkan untuk wanita seusianya. Tak hanya itu, dia juga yeoja yang ceroboh dan juga sedikit hiperaktif. Semuanya itu membuatku jatuh hati padanya…..
“Luhan-ah….Kau mau kemana malam malam begini?”
“Hanya ingin berjalan-jalan saja”
“Oh…..”
Seohyun mengangguk dan tiba tiba melingkarkan lengannya pada lenganku. Tentu saja hal itu membuatku kaget, hingga aku menjadi salah tingkah dihadapannya….
“Kajja…..”
Malam itu…. Kami berjalan menyusuri kota bersama sama. Menyaksikan berbagai macam hal menarik yang kami temui. Gelak tawa sesekali terdengar ketika kami melontarkan canda gurau. Sesekali kulirik wajahnya yang sedang tertawa riang di sampingku. Aku suka sekali melihat wajah cerianya itu…..
“Wae?”
Seohyun menyadari jika aku sedang memandanginya. Dengan wajah polosnya, dia pun bertanya padaku. Betapa manisnya wajah Seohyun. Wajah yang selalu dan selalu membayangi pikiranku….
Seakan logikaku tak berfungsi lagi, tubuhku bergerak mendekatinya. Wajahku semakin mendekati wajahnya, deru nafasnya bahkan kini bisa kurasakan. Chu~ aku mengecup bibir lembutnya itu. Tangan kami saling bergenggaman, seakan tak ingin terpisahkan…..
***
“Luhan-ah……”
Terdengar sebuah suara memanggil namaku. Kubuka kedua mataku yang terasa berat. Kepalaku rasanya sakit dan sepertinya suhu tubuhku lebih tinggi dari biasanya….
“Seo-ah? Sehun?”
Aku terkejut melihat kedua sahabatku kini telah berada di hadapanku. Dan aku, sedang terbaring di kasur empuk yang ada di kamarku….
“Bukannya aku di taman?”
“Kau pingsan dan kami membawamu kesini”
“Jinjja? Ah mianhae…..Karena aku kalian jadi….”
“Ya! Jangan berkata begitu. Kita ini kan sahabat…..”Ucap Sehun
“Mian…..”
Hanya mimpi….Ternyata kejadian itu tidaklah nyata. Aku hanya terlalu mencintainya….Kutatap kedua sahabatku itu bergantian. Di jemari mereka terpasang cincin yang sama. Mereka telah menikah….
“Seo-ah…..”
“Wae?”
“Ah….aniyo. Lupakan….”
Sekali lagi, kupandangi wajahnya sebelum pandanganku beralih kepada Sehun, namja yang telah memiliki Seohyun….. Maafkan aku Sehun…. Maaf karena kita mencintai yeoja yang sama. Dan…. Maaf untukmu Seohyun. Maaf karena aku mencintaimu…..

=Mianhae,Saranghae=

Waiting…..
~Waiting~
Udara yang sejuk, pemandangan yang masih asri dengan berbagai tumbuhan indah beraneka warna menghiasi, ikut menambah keindahan tempat ini. Kuhirup sejenak udara yang masih bersih sambil melemaskan tubuhku. Yah, sejak di pesawat tadi, tubuhku rasanya cukup kaku.
“Seo-ah…. Disini indah sekali. Apa kau tidak ingin melihatnya?”
Tak kudengar jawaban darinya. Apa mungkin sesuatu terjadi pdanya? Aigo, jangan sampai  hal buruk menimpanya. Aku pun bergegas masuk dan mencarinya, hingga kutemukan dia sedang terlelap di atas ranjang. Wajahnya begitu manis, bahkan saat tidur. Rambutnya sedikit berantakan dan kedua bibirnya sesekali membuka, lalu menutup lagi.
“Dasar…..”
Aku pun duduk di samping sambil memainkan beberapa helai rambutnya. Dia seperti dewi…Betapa beruntungnya aku dapat memilikinya. Dialah anugerah indah yang akan selalu kujaga….
“Aku….Merindukanmu”
Deg…. Hatiku tersentak ketika dia mengucapkan kata kata itu.  Aku tahu persis apa dan untuk siapa kata kata itu. Bukan untukku, melainkan untuknya…..
“Aku berharap….Penantianku ini takkan sia sia, Seo-ah….”
Kuputuskan untuk duduk di luar sambil menikmati pemandangan. Sekedar untuk menenangkan hatiku…. Aku tak ingin menghadapi sesuatu dengan perasaan yang tak mengenakan. Aku berusaha untuk menahan segalanya dalam hati, agar aku takkan kehilangannya…
“Seo-ah… Bisakah kau memasukan aku dalam hatimu, seperti Luhan?”
Itu sepertinya takkan mungkin. Sebab hati dan cinta bukanlah sesuatu yang dapat kita kendalikan. Kita tak bisa menentukan kepada siapa kita menyerahkan cinta. Dan kita juga takkan bisa memaksakan seseorang mencintai kita.
Tapi… Dalam cinta, selalu ada keegoisan. Dan keegoisanku mampu membuatku memilikinya. Namun karena keegoisanku pula, aku harus menangung segala rasa sakit. Rasa sakit yang selalu mendera hatiku, ketika teringat akan kenyataan bahwa mereka saling mencintai….
“Mian….”
Hanya itu yang dapat kuucapkan. Kata yang tak mampu kuucapkan langsung di hadapan dua orang yang berharga dalam hidupku. Kata yang selalu tertanam di hati kecilku sejak dulu. Sejak kami belum menjadi seperti sekarang….
Aku tahu, mereka memiliki rasa yang sama sama mereka pendam. Namun sedalam apapun rasa itu mereka pendam, tetap saja aku atau bahkan orang lain dapat mengetahuinya. Awalnya aku merasa bersalah, telah hadir dalam hubungan mereka. Dan mungkin saja jika aku tak ada, Seohyun akan benar benar bersanding dengannya…
“Sehun-ah….Mianhae, aku tertidur….Hoam….”
Rupanya dia sudah bangun. Mata indahnya yang menatapku, sungguh…Membuatku berdebar. Mianhae….Luhan….
“Y…Ya….Kau kenapa,Oh Sehun?”
“Ani…Aku hanya ingin memeluk istriku sebentar saja”
Kubenamkan wajahku, mendekapnya semakin erat. Seakan tak ingin melepasnya. Dan itu benar. Aku takut dia akan meninggalkanku. Aku takut sekali…
“Sejak kapan kau jadi semanja ini, Oh Sehun?”
“Sejak…Kita menikah”
Drrttt…. Terdengar suara getaran handphone dari saku Seohyun. Dia pun mengambil handphonenya, namun dengan cepat kurebut handphone miliknya dan langsung kumatikan, karena aku tahu….Siapa si penelpon itu
=Waiting=

Accident
“Mwo? Kau… dan Luhan….”
Jessica, sepupu Luhan terkejut mendengarnya ucapanku. Aku sendiri hanya bisa menutupi wajah dengan kedua tanganku, menahan rasa malu yang sejak tadi siang terus menggangguku(?)
“Itu….Kecelakaan unni….Sungguh, bukan sesuatu yang disengaja”
“Tapi….Kau beruntung! Luhan yang pertama untukmu”
“Unni! Sudah kubilang ciuman itu hanya….”
Belum sempat kulanjutkan kata kataku, mataku menangkap sosok Luhan yang sedang berdiri di depan pintu kamar Jessica unni yang terbuka. Aku merasa seperti orang bodoh saat ini. Aku berlari secepat yang aku bisa dan melewati Luhan yang masih berdiri kaku layaknya patung. Aku merasa tak siap bertemu dengannya….
“Argh….Babo! Kenapa aku harus lari? Lagipula kan itu hanya kecelakaan saja. Mana mungkin Luhan menganggap itu sebuah ciuman….Hahaha”
Kini, bahkan aku merasa diriku benar benar sangat aneh. Seperti orang gila lebih tepatnya. Sejujurnya, aku terus merisaukan ciuman itu dan….Perasaan Luhan saat ini. Mungkinkah dia kebingungan seperti aku? Aish….
***
Kali ini aku tidak berangkat ke sekolah bersama Luhan. Aku sengaja menghindarinya untuk sementara waktu. Aku masih merasa takut untk bertatap muka dengannya….
“Seo-ah…”
Kudengar suara seseorang yang memanggilku. Begitu aku menoleh, kudapati sosok Sehun yang tersenyum. Dia kemudian berlari menghampiriku
“Kita berangkat sama sama….”
Kami pun berjalan bersama menuju sekolah. Ini pertama kalinya aku berjalan bersama Sehun seperti ini. Biasanya selalu ada Luhan diantara kami. Dia seringkali membuat suasana canggung diantara aku dan Sehun berkurang. Aneh, bagaimana bisa namja setenang Sehun bersahabat dengan Luhan yang hiperaktif itu?
“Seo-ah…Wajahmu memerah. Apa kau..Sakit?”
“Eng….Ani. Aku baik baik saja…..”
“Jinjja? Ah~ Syukurlah…. Aku pikir kau sakit”
“Hm?”
“Aku…. Akan menunggumu, dia atap…Sore nanti”
Sehun tersenyum lembut padaku, dan perlahan mempercepat langkahnya. Dia akhirnya pergi mendahuluiku….
***
Sesampainya di sekolah, aku pun berjalan perlahan menuju ke ruang kelas. Teringat kembali olehku kejadian saat aku tak sengaja jatuh diatas tubuhnya, dan bibir kami bersentuhan selama beberapa detik…..
“Aish…Lupakan! Lupakan….”
Kurasakan sentuhan di pundakku. Kupadapati sebuah tangan tengah memegangi pundakku. Aku menoleh dan mendapati sosok Luhan yang kini berdiri di belakangku.
“Lu…Han?”
“Pagi….”
Dia tersenyum sambil menyapaku. Kemudian dia pergi menuju kursinya dan meletakkan tasnya. Padahal hari ini aku tak ingin bertemu dengannya…Aish….
“Mian….”
Mendengar kata maaf yang terucap dari mulutnya, aku merasa perasaanku menjadi aneh….
“M…Mwo?”
Untuk sesaat, Luhan terdiam sambil memandang ke bawah. Kemudian dia menghembuskan nafas dan kini dia menatapku. Mata kami bertemu….
“Anggaplah itu kecelakaan… Lagipula, itu bukan berarti apa apa kan?”
Mwo? Jadi dia menganggapnya seperti itu? Sudah kuduga…. Tapi kenapa hatiku merasa sakit saat dia mengucapkannya? Kenapa aku merasa ingin menangis….
“Be, benar…La…lagipula, kita kan sa…habat. Jadi mana mungkin kan? Hahaha”
Kupaksakan diriku untuk tertawa. Apa aku terlihat aneh?
“Hm. Dan… Aku berharap, kau temui Sehun sore ini…Apapun yang terjadi, arra?”
“N…Ne…”
***
“Good luck”
Luhan menepuk pundakku pelan dan langsung pergi bersama dengan beberapa teman sekelas kami. Kupandangi punggungnya yang semakin menjauh itu. Luhan….aku ingin kau menatapku….
“Bodoh….”
Apa yang kuharapkan? Jelas jelas dia sendiri yang mengatakan hanya menganggap ciuman itu seperti sebuah kecelakaan. Jangan mengharap apapun, Seohyun!
Aku pun menaiki satu demi satu anak tangga. Hingga pada akhirnya aku tiba di depan pintu atap sekolah, dan memutuskan untuk masuk. Aku terkejut melihat atap sekolah yang kusam dan penuh corat coret kini bersih dan bahkan sekarang dihiasi berbagai macam benda benda yang indah. Terus kuedarkan pandanganku ke sekitar, hingga kudapati Sehun yang tengah berdiri membelakangiku.
“Oppa?”
Sehun berbalik dan menatapku. Wajahnya sedikit tak nampak(?) dikarenakan sinar matahari senja. Dia semakin mendekatkan posisinya denganku, dengan kedua tangan berda di belakang.
“Kau…Yang melakukan ini semua?”
“Ani. Luhan membantuku…”
Mendengar namanya, hatiku merasakan rasa sakit itu lagi…. Aku merasa seperti yeoj yang baru saja patah hati setelah ditolak. Airmataku perlahan jatuh dan membasahi kedua sisi wajahku. Sehun berlari kecil dan langsung menarikku dalam dekapannya. Aku menangis di pelukannya….
“Saranghae Seo-ah….”

=Accident=

Missing

~ Missing~
Hari ini kami akan berangkat ke pulau Jeju. Biasanya kami sering bepergian bersama. Hanya saja untuk kali ini, aku pergi berdua dengan Sehun. Sepi kurasa tanpa dirinya…
“Seo-ah….Ayo kita berangkat”
Aku tersadar dan mendapati Sehun kini berada di hadapanku, tersenyum sambil memperlihatkan dua tiket pesawat. Aku membalas senyumannya seadanya dan berjalan mengikutinya dri belakang. Sesekali kuedarkan pandanganku ke sekitar bandara, berharap agar dia ada di sana. Menampakkan senyum bodohnya. Namun, itu takkan mungkin….
***
“Seo-ah…. Kau tidak ingin memesan sesuatu?”
“Ani. Aku hanya ingin tidur saja”
“Baiklah. Silahkan tidur yang nyenyak, istriku”
Deg….
Hatiku tersentak mendengar ucapannya. Benar, kini aku telah menjadi istri Sehun. Dan sekarang ini kami akan pergi untuk berbulan madu.Dalam pernikahan, hal seperti ini selalu akan dibayangi dengan hal hal menyenangkan, tapi sepertinya tidak untukku…. Aku merasa seakan akan seperti sedang berakting. Aku merasa seperti pembohong besar. Aku melakukannya bukan karena ingin berbohong, namun karena aku tidak ingin lebih melukainya. Maaf….
***
~ Missing ~
Ku kerjapkan mataku berkali kali. Kudapati Sehun tengah tertidur di bahuku.Wajahnya yang sedang tidur selalu mengingatkanku padanya… walau memiliki sifat yang berbeda, namun wajah mereka seringkali terlihat mirip di mataku…
“Hm….Seo-ah…Saranghae”
Deg….
Hatiku terasa seperti dihantam sesuatu lagi. Mendengar igauan Sehun….Entah kenapa terasa begitu menyakitkan bagiku. Oppa….ada apa denganku?
“Ng….”
Sehun perlahan membuka matanya dan kemudian mengerjap beberapa saat. Sontak aku langsung menutup mataku, seakan akan aku sedang terlelap.
“Kau pasti lelah…..”
Sehun menuntun kepalaku dan menyandarkannya tepat di bahunya. Padahal ini bahu suamiku, tapi….Kenapa perasaanku seperti ini? Kenapa hatiku tak merasa senang sedikitpun? Kenapa…..
***
~ Missing~
Akhirnya setelah kurang lebih 2 jam(?) kami pun tiba di tempat yang kami tuju, tepatnya di sebuah penginapan yang letaknya berada di sekitar pedesaan. Sehun tampaknya begitu menikmati pemandangan di sekitar sini, sedangkan aku…. Terus menguap sejak tadi. Dan akhirnya mataku terpejam….
Kini aku berada di sekolah lama. Kuamati sekitar dan….Sesosok namja yang memang tidak asing lagi terlihat olehku. Itu….Luhan…..
“Aku….Merindukanmu”
Kuhampiri Luhan dan memeluknya dari belakang. Aku merasa begitu merindukan namja ini. Sejak menikah, dia seakan akan menghilang dari kehidupanku. Aku tahu, takkan mungkin lagi bagi Luhan untuk terus hadir di kehidupan kami, tapi….Aku ingin dia terus hadir di kehidupanku….
“Seo-ah…. Aku rasa kita…Akan bertemu lagi”
Setelah mengucapkannya, tubuh Luhan tak terlihat lagi olehku. Dia…Lenyap
“Luhan….”
Aku terjaga, dan mendapati diriku berada di sebuah ranjang cukup besar. Aku pasti bermimpi tadi….
“Seo bodoh!”
Kurutukki diriku sendiri. Bisa bisanya aku memimpikan Luhan, padahal aku telah menikah dengan Sehun…. Babo!
Aku tidak boleh begini! Aku tidak ingin menyakiti siapapun….
***
~ Missing ~
“Sehun-ah….Mianhae, aku tertidur….Hoam….”
Aku menghampirinya dan berpura pura bersikap selayaknya orang yang baru saja terjaga dari lelap. Sehun menatapku sebentar, kemudian langsung membawaku dalam pelukannya
“Y…Ya….Kau kenapa,Oh Sehun?”
“Ani…Aku hanya ingin memeluk istriku sebentar saja”
Sehun semakin mempererat pelukannya…..
“Sejak kapan kau jadi semanja ini, Oh Sehun?”
“Sejak…Kita menikah”
Benar…Kini aku telah menikah….. Aku harus berusaha melupakanmu,Luhan…Untuk sekarang dan selamanya….
Drrttt…. Kurasakan getaran dari dalam saku celanaku. Aku pun memasukan tanganku ke dalam saku, mengambil handphoneku. Namun begitu terambil(?) Sehun dengan cepat merebutnya dari tanganku…
“Oppa…”
“Kumohon…. Aku ingin menghabiskan seharian ini bersama istriku”
Deg…
Hatiku tersentak mendengarnya… Tanpa sadar aku mulai meneteskan air mata….
“Seo-ah….”
Kusandarkan kepalaku di dadanya yang bidang, membiarkan airmata ini terus berjatuhan….
***
Kini mentari telah digantikan oleh cahaya rembulan. Dan Sehun telah terlelap. Mungkin dia merasa lelah….
Kunyalakan ponselku dan menemukan satu pesan suara…Dari Luhan….
From : Luhan
Ya! Kenapa tidak mengangkat telponku? Padahal aku juga sedang berada di pulau Jeju. Kata ibumu, kau dan Sehun juga sedang kesana, makanya aku memutuskan untuk menelponmu agar kalian menjemputku di terminal!
“Jadi….Luhan…..”
Kututupi mulutku, agar aku tidak mengejutkan Sehun. Kini mataku dipenuhi cairan bening….
Dengan cepat kuambil jaket dan segera pergi ke terminal. Meski sudah malam, entah mengapa hatiku seperti berkata bahwa aku akan bertemu dengannya disana….
Aku terus berlari tanpa mempedulikan jarak dari penginapanku ke terminal yang terbilang cukup jauh itu. Aku hanya ingin bertemu dengannya saja….Hanya itu….
Begitu sampai….Tak kutemui siapapun di sana. Hanya ada bangku yang tentu saja kosong…. Dia dimana? Luhan….Aku merindukanmu…Aku ingin bertemu
“Kau….Nona Seohyun?”
Aku tersentak ketika seorang ajjuma menghampiriku. Dia memperhatikan wajahku kemudian mengalihkan pandangannya ke layar ponsel….
“Mian…. Ajjuma mengenalku?”
“Ne. Ini fotomu kan?”
Ajjuma itu memperlihatkan fotoku bersama Luhan. Dan aku tersentak ketika mendapati sebuah gantungan di handphone itu. Handphone ini….Milik Luhan
“Ajjuma….Ini milik….”
“Ne, ini milik temanmu”
“Lalu…Dimana dia?”
“Dia….Mengalami kecelakaan tadi siang. Dan sebelum dibawa ke rumah sakit, dia memohon padaku untuk menjaga handphonennya dan menyuruhku untuk menyerahkannya padamu”
“Luhan….”
“Dia…Tertabrak saat mencoba menghubungi seseorang. Dan sekarang dia sedang berada di rumah sakit”
“Luhan-ah….”
Sekujur tubuhku langsung terasa lemah, sehingga aku jatuh terduduk.  Airmataku kembali membanjiri mataku. Luhan… Mianhae. Jika saja aku datang lebih cepat, kau takkan mengalami ini. Jika saja tadi kau tidak menelponku, tidak mungkin kau akan celaka… Luhan…. Mianhae, jeongmal mianhae……
=Missing=

Still…
Sejak mereka menikah, hidupku tiba tiba saja terasa begitu hampa. Kini tak ada lagi suara tawa yang sering kudengar itu. Itu… Bagian dari kenangan indah yang kumiliki tentangnya. Aku….Begitu menyukainya. Tapi aku pun tak ingin melukai sahabatku dengan perasaan ini. Dia…. begitu mencintainya, sama sepertiku. Karena itu, aku tak memperjuangkan cintaku. Aku terlalu takut melukai orang lain… Terlebih karena dia… Sahabatku
“Apa cinta…. Serumit ini?”
Jika bisa, ingin kuhilangkan segala perasaan ini. Tapi… Aku tak dapat membohongi diriku sendiri. Jujur…. Aku masih mengharapnya…
“Luhan…”
Terdengar suara umma yang memanggilku dari balik pintu kamar
“Ne umma?”
“Ibunya Seohyun menelponmu”
Bergegas aku keluar dari kamar, menuruni deretan anak tangga dan segera meraih gagang(?) telpon yang tadi berada di tangan umma
“Yoboseyo?”
“Luhan….Itu kau?”
“Ne, ajjuma. Ada apa?”
“Bisakah kau datang ke rumah ajjuma sore ini? Ada hal penting yang harus ajjuma bicarakan denganmu”
“Ah, ne ajjuma……”
***
Rumah yang sudah lama tak ku kunjungi….. Ah… Ternyata aku begitu merindukan tempat ini. Tak sedikit waktu yang telah kulewatkan bersamanya di rumah ini. Seakan akan rumah ini menjadi ‘saksi’ kisah kami.
“Luhan…. Masuklah”
“Ah, ne ajjuma…..”
Kulangkahkan kakiku dan sampailah aku di dalam rumahnya. Tak banyak yang berubah di tempat ini sejak terakhir kali aku berkunung kemari. Mungkin… Hanya deretan foto itu saja yang membuat tempat ini terlihat sedikit berbeda dari sebelumnya. Mataku tertuju pada sebuah foto yang dihiasi bingkai dengan motif bunga matahari
“Itu…Bunga kesukaannya”
Benar… Bunga matahari merupakan bunga kesukaan Seohyun. Entah hanya perasaanku saja atau memang benar…. Diantara deretan foto yang menghiasi dinding, foto itulah yang terlihat ‘berbeda’ dari yang lain….. benarkah?
“Seohyun… Sengaja memilih bingkai bunga matahari untuk kalian berdua”
Suara lembut ajjuma membuatku sedikit terkejut. Dengan segera aku mengambil tempat untuk duduk.
“Katanya…. Dia ingin mengabadikan momen istimewa di hidupnya dengan ada bunga mathari”
Mwo? Jadi…. Bagi Seo-ah…. Fotoku bersama dengannya……
“Luhan…. Ajjuma menyuruhmu datang untuk menyerahkan ini”
Ajjuma menyodorkan kotak-yang entah apa isinya- padaku….
“ajjuma, ini….”
“Aku ingin…Kau ke Jeju. Berikan ini pada Seohyun…..”
“Kenapa…. Aku?”
“Kau harus memastikannya sekali lagi, Luhan…. Perasaan anak perempuan ajjuma itu. Pastikan bagaimana perasaannya padamu….”
***
Karena itulah…. Sekarang aku berada di Jeju. Untuk menyerahkan ini dan juga untuk memastikan perasaan Seohyun padaku. Jahatkah diriku ini? Jelas jelas dia telah menikah, tapi aku dengan seenaknya hadir diantara mereka. Hanya untuk menanyakan hal konyol…. Bodohkan dirimu Xi Luhan? Ya…. Kau memang bodoh!
“Bodoh. Kenapa bisa aku lupa menanyakan alamat hotel mereka? Aish….”
Kurutuki kebodohanku. Bisa bisanya aku datang tanpa tahu alamat mereka. Apa aku harus bermalam di halte? Aish….
“Ah….Telpon sajalah”
Kuputuskan untuk menelpon Seohyun. Mngkin ini akan mengganggu, tapi jika tidak kubungi dia aku harus bersiap untuk kemungkinan terburuk. Bermalam di halte
Telah kucoba berulang kali untuk menghubunginya, tetap saja tak ada jawaban. Aish….
“Ya! Jebal, angkat telponku, Seo-ah…. Aku tidak ingin bermalam di sini”
Akhirnya kuputuskan untuk mencari alamat mereka, sambil tetap mencoba menghubungi Seo-ah. Ayolah… Jangan biarkan aku bermalam di halte!
“Ya! Awaaaasssss!!!!”
Suara seorang ajjuma membuatku terkejut. Kurasakan tubuhku ditabrak, hingga membuat tubuhku terhempas. Perlahan mataku mulai terpejam, segera setelah kutitpkan handphoneku pada ajjuma itu. Mungkin saja.. Seohyun akan datang mencariku…..
=Still=

Maybe this Answer for My Love…..
“Luhan-ah….Sadarlah”
Dia tengah menangisinya…. Namja yang sejak dulu dia cintai. Namja yang saat ini tengah terbaring, dengan mata terpejam dan beberapa alat yang terpasang di beberapa bagian tubuhnya. Yah…. Namja itu tak sadarkan diri sejak mengalami kecelakaan hingga sekarang.
“Luhan…. kau mendengarku bukan? Kau pernah bilang kau takkan pernah membuatku menangis kan? Lantas sekarang kenapa…kau biarkan aku….”
Yeoja itu berhenti berucap ketika seorang namja yang baru saja datang menghampirinya. Namja itu berdiri diam di sampingnya. Berusaha menahan diri untuk tidak membawa yeoja itu ke dalam dekapannya.Yeoja itu terisak dengan tangan menutupi wajahnya.
“Seo-ah….”
“Aku….. Harus bagaimana lagi oppa? Apa yang harus kulakukan agar Luhan sadar? Aku….”
“Kita hanya bisa berharap, Luhan akan membuka matanya lagi…..”
***
Sudah 6 bulan lebih sejak dia tak sadarkan diri. Yeoja itu terus saja mendampinginya. Tak kenal siang dan malam. Dengan setia yeoja itu selalu merawatnya. Menuangkan segala cinta dan kasih yang tulus kedalam bentuk perhatian untuk namja itu. Tak sadar…. Yeoja itu telah secara tidak langsung menyakiti hatinya…. Dia yang selama ini selalu berada di sisinya. Dia yang selalu berusaha tegar, ketika mengetahui kenyataan bahwa cinta yeoja itu bukanlah untuknya….. Dia pun menyadari cintanya terhadap yeoja itu…. Takkan pernah bersambut
“Apa kau tahu…. Bagaimana perasaanku saat ini? Bisakah kau dengar….Tangis dihatiku?”
Namja itu…. Terus saja memperhatikan pemandangan menyesakkan itu dari balik jendela. Sulit memang, mengikhlaskan orang yang kita cintai untuk bersama dengan orang lain. Benar benar sulit. Tapi…. Dia pun sadar, bahwa cinta itu tidak lantas harus bersama. Asal dia tersenyum, meski bukan denganmu…. Kau akan ikut tersenyum…..
“Mungkin….Ini yang terbaik yang bisa kulakukan untuk kalian, sahabatku….”
Malam itu, di taman rumah sakit yang sepi…. Namja itu menumpahkan semua perasaanku dalam tangis. Menyesali semua keadaan itu… Semua yang telah terjadi dalam hidup mereka. Takdir yang membuat mereka menjadi seperti ini….
Dia….Ingin mengembalikan semuanya. Ingin semuanya kembali ke tempat yang seharusnya. Dan untuk itu….Akan ada pengorbanan….. Namja itu tersenyum sedih. Ditatapnya amplop besar yang sejak tadi di genggamnya. Kemudian…. Dengan mantap dia pun melangkah pergi, menjauh dari tempat itu.
=Maybe this Answer for My Love=

Confession

Kini…. Hampir setahun lamanya aku berada di sini. Duduk sambil menatapnya. Tak ada yang berubah…. Matanya tetap saa terpejam. Tak ada gerakan dari tubuhnya. Kumohon Luhan…. Sadarlah. Apa kau tahu betapa tersiksanya aku saat ini? Melihatmu seperti ini….
“Kau tahu….Sudah setahun kau melewatkan semuanya disini? Ya! Bangun….”
Air mata ini tak dapat kutahan. Bulir berjatuhan membasahi kedua sisi wajahku. Ini menyakitkan…. Sungguh….

Lagi lagi…Airmataku jatuh, walaupun  aku berusaha dengan keras menahannya. Kembali kugenggam tangan Luhan….
“Se…o…ah…..”
Suara itu…..
“Luhan-ah….Bangun. Ayo, buka matamu….”
Dengan perlahan, Luhan mulai membuka matanya. Sebuah senyum kecil terukir di wajahnya ketika melihat aku dan Sehun oppa yang kini berada di hadapannya….
Airmataku kembali mengalir. Melihat senyum yang sudah setahun ini tak pernah lagi terlihat….Bagaikan suatu keajaiban….
***
“Luhan…. Ayo makan. Aku dan Ajjuma sengaja memasakan ini untukmu”
Sejak Luhan sadar, entah mengapa aku merasa dia seperti…. Berusaha menghindariku. Dia seringkali mengalihkan pandangannya ke luar jendela….
“Kau….Membenciku?”
“Aniyo….”
Selalu saja….Jawaban itu yang keluar dari mulutnya. Dia berusaha menutupi semuanya….
“Ya! Kau membenciku kan? Kau selalu saja mengalihkan pandangan saat aku ada di sini. Jujur saja, kau….”
“Aku takkan mungkin membencimu,Seo-ah….”
“Kau bohong”
“Babo! Mana bisa aku membencimu….Yeoja yang kucintai”
Bagaikan sihir. Luhan….Mengatakan dia…Menyukaiku
“Ya! Jangan melamun saja. Ayo beri dia jawaban”
Aku dan Luhan tersentak mendengar sebuah suara. Ternyata Sehun oppa sejak tadi berdiri di depan pintu yang tidak tertutup itu. Berarti dia….Mendengar semuanya….
“Ah…Sehun….Aku….”
Luhan terlihat bingung. Mungkin dia takut Sehun akan marah padanya
“Tenanglah. Kau jangan berpikir kau itu perebut istri orang. Karena mulai sekarang…. Takdir akan menyatukan kalian….”
Apa maksud perkataan Sehun Oppa barusan?
Sehun oppa tersenyum, kemudian melangkah pergi. Namun sebelum itu, dia menoleh dan mengucapkan sesuatu…
“Kali ini….Jangan sampai kau menyia nyiakan semuanya lagi, arra?”
Seulas senyum kulihat dari wajah Luhan…..
“Arra…..” ucapnya “Gomawo Sehun…. Kau memang sahabat terbaikku”
Sehun pun akhirnya pergi…..
“Seo-ah…..”
“Ne?”
“Saranghaeyo…..”
Ucapan yang dulu begitu ingin kudengar dari Luhan, akhirnya…

=Confession=

Last
[ Finnaly and Side Story]

Finnaly…

“Luhan-ah….Sadarlah”
Kesedihan mendalam dapat kurasakan dari dirinya. Kupandangi dirinya yang kini tengah menggenggam tangannya. Dengan mata yang sembab karena menangis dan tubuh yang semakin kurus dia terus menungguinya. Bahkan tak henti hentinya dia menggenggam tangan yang bahkan tak pernah memperlihatkan gerakan sedikitpun itu….
“Mianhae….”Gumamku pelan
Sepertinya keegoisanku membawa hubungan ini pada kerumitan dan pada akhirnya menjadi seperti ini. Dalam sekejap kumiliki dirinya, dalam sekejap pula aku kehilangannya. Walaupun aku tahu pada akhirnya akan berakhir dengan kesedihan, aku tetap saja bersikap seolah aku tak mengetahuinya…. Aku memang pantas disebut manusia jahat. Sungguh itu memanglah pantas untukku…..
Lagi lagi…Airmatanya jatuh, walaupun dia berusaha dengan keras menahannya. Kembali digenggamnya tangan itu….
“Seo-ah….”
Dia menutupi wajahnya yang basah dengan kedua telapak tangannya, sambil terisak. Ingin sekali aku menyandarkannya dalam dekapanku, namun aku takkan mungkin melakukan itu lagi. Karena aku tahu jika aku melakukan itu, aku semakin sulit bagiku untuk menghilangkan perasaan ini….
Seohyun tersenyum padaku, walaupun dengan airmata yang masih mengalir… Aku benci melihat orang yang berharga bagiku menangis. Tuhan, apa yang bisa kulakukan untuk menghapus airmatanya itu? Berikan aku jawaban….
“Se…o…ah…..”
Suara itu…..
“Luhan-ah….Bangun. Ayo, buka matamu….”
Seohyun terus menyemanganti Luhan agar membuka matanya. Dan itu semakin menunjukkan betapa Seohyun mencintai namja yang telah menjadi sahabat baikku itu….
***
Sejak Luhan melewati masa kritis dan sadar, aku terus dan terus meyakinkan hatiku untuk melepaskannya. Aku melakukannya bukan karena rasa bersalahku padanya, namun karena aku tahu betapa mereka saling mencintai…. Dan aku pun sadar bahwa tak ada lagi ruang dihatinya untukku….
“Mungkin….Ini yang terbaik yang bisa kulakukan untuk kalian, sahabatku….”
Malam itu, di taman rumah sakit yang sepi aku menumpahkan semua perasaanku dalam tangis. Aku menyesali semua keadaan ini… Semua yang telah terjadi dalam hidup kami. Takdir yang membuat kami menjadi seperti ini….
Aku….Ingin mengembalikan semuanya. Aku ingin semuanya kembali ke tempat yang seharusnya. Dan untuk itu….Akan ada pengorbanan…..
***
“Oppa….haruskah kita melakukan ini?”
Seohyun terlihat ragu. Aku berusaha untuk meyakinkannya dan mendorongnya pelan agar dirinya yakin untuk melangkahkan kakinya menuju altar….
“Palli, Seo-ah…Dia menantimu disana….”
Benar….Dia berdiri di sana, menunggumu untuk datang menghampirinya. Disana…Dia berdiri dengan penuh keyakinan. Namja yang kau cintai kini menantimu, Seohyun….
“Hm…Baiklah oppa. Tapi dukung aku, ne?”
“Pasti….”
Kuanggukan kepala, kemudian kupandangi punggungnya yang semakin menjauhiku. Dulu….Akulah yang berdiri di sana, dan dia yang berada di sini. Aku pun jadi mengerti,bagaimana perasaannya Luhan ketika menyaksikan kami dari sini….
“Sehunni…Ayo kesini”
Xi ajjuma-ibunya Luhan yang duduk di bangku belakang memanggilku untuk duduk bersamanya. Bagiku yang sudah tidak memiliki ibu ini… Kasih sayang sunggulah sesuatu yang berarti. Walaupun bukan dari ibuku, namun bagiku ajjuma adalah sosok seorang ibu….
“Sehun…. Tetaplah menjadi sahabat Luhan….”
“Ne ajjuma. Apapun yang terjadi, mereka tetaplah yang berharga bagiku….”
***
Tujuh tahun telah berlalu. Hari demi hari kini kulewati dengan kesendirian. Yah…Inilah bayaran untukku atas keputusan yang kuambil. Meski berat, namun ada sedikit perasaan lega yang menyusup di hatiku….
“Oppa!”
Aku tesentak dan berusaha mencari asal suara itu. Begitu kutemukan, terlihat olehku sosok yeoja yang aku cintai kini bersama dengan Luhan dan kedua putrinya. Memang seharusnya seperti ini sejak awal. Tapi….Sudahlah, toh pada akhirnya  semua kini berada pada tempat yang seharusnya.
“Sehun oppa!”
Yoo Eun  berlari menghampiriku, dengan Luhan dan Seohyun beserta Yoo Geun di belakang.  Mereka saling bergenggaman erat…..
“Ya! Harusnya kalian memanggilnya ajjushi, bukan oppa!”
Luhan mengetuk kepala mereka berdua pelan. Yoo Eun terlihat meringis kesakitan sambil mengusapi kepala mereka.  Luhan…Tetap saja tidak berubah, meski telah menjadi seorang ayah sekalipun. Dan Seohyun…. Akhirnya aku bisa melihatnya tersenyum bahagia. Setelah tiga tahun wajahnya dihiasi airmata…. Senyumnya itu, membuatku berpikir bahwa keputusan yang kuambil benar benar tepat…
“Oppa…Luhan memukulku”
Yoo Eun merengek sambil bersembunyi di belakangku. Luhan berniat untuk mengetuk kepala Yoo Eun lagi, namun kuhalangi….
“Sudahlah…Kasihan Eun…..”Ucapku. Luhan pun melipat tangannya di dadanya sambil mendengus.
“Yah….Baiklah”
Yoo Eun-putrinya ini benar benar menuruni sifat Luhan. Ceria, apa adanya dan suka bercanda. Itulah mereka….
“Mian yah Sehun oppa…. Mereka tidak sopan padamu.”Ucap Seohyun
“Aniya….Aku pikir bagus juga mereka memanggilku oppa, agar aku merasa lebih muda”
Gelak tawa terdengar dari Luhan dan Seohyun ketika mereka mendengar ucapanku. Melihat mereka tertawa, tanpa sadar, aku pun ikut tertawa bersama mereka. Kami tertawa bersama lagi….Setelah sekian lama tak melakukannya….
“Yoo Eun….Kenapa memanggil ajjushi dengan oppa?”
“Hm…. Karena aku calon istri Sehun Oppa….”
Luhan,Seohyun,Yoo Geun dan juga aku terkejut mendengarnya. Namun tak lama setelahnya kami pun tertawa. Yoo Eun mengkerucutkan bibirnya sambil mengedarkan pandangannya ke semua.
“Yoo Eun….Kenapa?”Tanyaku. Aku menurunkan badan dan bertumpu pada siku kakiku, menyamakan tinggiku dengan Yoo Eun
“Kalian menertawakanku, padahal aku serius!”
“Ah,mian. Kau mau maafkan oppa?”
“Ne. Tapi oppa janji kan?”
“Baiklah….Tapi kau harus tumbuh dewasa dulu”
“Ne! Tunggulah aku….”
Aku dan Yoo Eun pun saling menautkan jari kelingking kami…. Sedikit terkejut aku ketika mendengar ucapannya. Tapi…Aku rasa ini janji ini pasti akan dilupakannya, hahaha….
Kini….Aku berjalan beriringan, bersama dengan mereka….Dengan perasaan bahagia….
=Finally=

Little Flower,in You’re Side

Sinarku takkan bisa seterang matahari
Aku juga tak bisa sehangat api yang menyala
Aku pun tak seindah cahaya bintang malam
Aku…Hanya mampu menjadi seperti bunga kecil
Yang akan selalu tumbuh dan menemanimu….
~Little Flower,In You’re Side~
Entah ini sudah yang ke berapa kalinya kulihat dia seperti ini…. Tersenyum, namun juga menangis….
Sudah sepuluh tahun lamanya… Namun tatapannya tetap saja sama. Tatapannya saat memandangi ayah dan ibuku, yang sedang tersenyum dengan bahagia….
***
~Little Flower,In You’re Side~
“Kau…Mabuk lagi?” Tanyaku. Dan seperti biasanya, namja bodoh ini hanya tersenyum memandangku. Apa dia tahu, betapa bodohnya dia?  Apa dia sadar wajahnya yang seperti itu sungguh membuatnya terlihat seperti manusia paling malang di dunia?
“Lupakan umma! Carilah kebahagiaan lain di luar sana!”
Kali ini dengan penuh penekanan kuucapkan kata kata itu. Entah sudah berapa ratus kali, kalimat yang sama selalu kulontarkan dari mulutku ini. Lelah….Tentu saja! Tapi…. Aku takkan bisa membiarkannya terus seperti ini….
“Jika bisa….Sudah kulakukan itu sejak dulu, Yoo Eun….”
Wae? Kenapa kau tak bisa melupakannya? Bisa bisanya aku menyukai namja bodoh ini.  Bisa bisanya aku mengharapkannya berpaling dan melihatku…. Dimatanya jelas aku ini hanyalah anak usia 15 tahun… Tapi kenapa, aku terus mengingkarinya? Kenapa aku harus mencintaimu ajjushi….Kenapa?
“Kau tahu….Betapa dirimu terlihat menyedihkan,eoh? Apa kau pernah sekali saja melihatku, dan bukan umma? Dan apa kau tahu…Betapa aku mencintaimu? Kau ini bodoh atau apa?!”
Sehun-nama namja itu tertegun mendengar ucapanku barusan. Dia perlahan melangkahkan kakinya…. Jarak antara kami semakin lama semakin dekat. Semakin dekat dan…. Berakhir dengan aku yang kini berada dalam dekapannya. Cukup erat untuk membuatku merasakan kehangatan….
“Mianhae….”
Terdengar suara  lembutnya olehku. Padahal begitu lembut, tapi…Mendengarnya justru membuatku tak tahan untuk tidak menumpahkan airmata yang sejak tadi  tertahan. Dia takkan berpaling padaku….Dan itulah kenyataannya…
***
~Little Flower,In You’re Side~
“Dia…Menolakku,unni”
Aku berbaring di kasur empuk milik Yoo Geun-unniku. Dialah satu satunya tempatku mencurahkan segalanya. Dia mampu memberiku solusi yang kurasa begitu bijak. Hanya dia yang tahu betapa hati ini begitu dalam menyimpan cinta untuk Oh Sehun…..
“Lalu….Kau akan terus menjadi bunga kecil yang terus menemani pria kesepian, atau…. memilih untuk terbang bebas seperti kupu kupu?”
“Aku..Begitu ingin menjadi kupu kupu….. Sayangnya aku takkan sanggup meninggalkannya… Dia begitu rapuh”
Benar….Hatinya terlalu rapuh untuk kutinggalkan sendirian. Rasa kehilangannya begitu mendalam… Aku berharap dengan adanya aku, luka itu akan menutup perlahan….
“Kau akan terus seperti ini? Padahal sudah terlihat jelas, perasaannya takkan berpaling pada yang lain…”
“Biarlah….Toh juga, cinta yang tulus takkan memerlukan balasan, benar kan unni?”
“Terserah kau saja….”
Aku akan tetap mencintainya unni….Sekalipun dia takkan pernah membalasnya…
***
~Little Flower,In You’re Side~
Hari ini kuputuskan untuk membolos dan pergi membawakan sarapan untuk oppa. Pasti dia masih terlelap. Meski aku tahu, kau takkan pernah mencintaiku, aku bertekad untuk tetap mendampingimu…Menyembuhkan luka itu….
Kubuka pintu apartemen dan benar saja. Kulihat Sehun oppa sedang terlelap di meja kerjanya, seperti biasa. Wajahnya yang sedang tertidur itu…. Sungguh tampan. Makin kupandangi, makin ingin kumiliki dirimu….
“Apa aku begitu tampan hingga kau terus memperhatikanku?”
Aku tersentak ketika dia membuka matanya dan menatapku. Samar samar bisa kurasakan nafasnya mengenai wajahku. Aku merasa gugup….
“A…Aniyo! Aku….hanya ingin membangun…kanmu saja”
“Jinjja? Kupikir kau terus melihatku karena aku tampan, hehehe”
Dia terkekeh melihat wajahku. Dasar! Suka sekali menggodaku…. Menyebalkan
“Ya~ Kenapa wajahmu seperti itu? Jelek tau”
Sehun oppa tersenyum dan mencubit kedua pipiku. Aish….Dia menganggapku seperti anak kecil
“Oppa! Hentikan!”
“Wae? Kau imut tau”
Benar…. Hanya umma yang ada di hatinya. Aku ini hanyalah anak kecil baginya, tak berarti apa apa….
“Yoo Eun…Kau…Menangis?”
Baru saja kusadari, air mataku jatuh begitu saja. Mengingat kenyataan itu….Hatiku merasa sangat sakit. Dia….Takkan pernah mempertimbangkanku….
“Oppa…. Jaga dirimu. Kau harus cepat sembuh dari luka hatimu. Dengan begitu….Aku akan bisa menghilang dari sisimu….Takkan lagi menjadi seperti bunga kecil”
Aku pun menepis tangannya dan berlari meninggalkannya….
Dan sejak hari itu….Tak lagi kutemui dirinya…..
***

Kini tanpa terasa setahun telah berlalu…. Kulalui tanpa ada dirinya. Aku merindukannya…. Bahkan ketika kupandangi deretan pohon sakura yang berjajar, aku teringat dirinya. Teringat masa masa dimana kami bersama…
“Bagaimana dia sekarang? Apa dia baik baik saja? Apa dia makan dengan teratur? Dan…apakah dia masih….Mencintai umma?”
Kulontarkan berbagai pertanyaan sambil menengadahkan tanganku. Menunggu kelopak demi kelopak sakura yang jatuh untuk memenuhi tanganku. Bisakah aku bertemu lagi dengannya….
“Kau..Memanjangkan rambutmu,Yoo eun?”
Suara yang membuatku tersentak. Itu….Suara yang kurindukan. Suara yang tak pernah lagi terdengar di telingaku….
“Se…hun…oppa?”
“Annyeong. Bagaimana kabarmu? Apa kau baik baik saja? Apa kau makan dengan teratur? Dan…Apakah kau masih…mencintaiku?”
Tak mampu kujawab pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkannya. Tangisku pecah ketika melihatnya tersenyum. Kakiku perlahan berlari menghampirinya, dan kudekap erat tubuhnya….
“Oppa….”
“Saranghae…. Saranghae, Yoo Eun….”

~END~

Penulis:

"Kenaliku melalui tulisan... Tulisanku."

2 thoughts on “[SeoHunHan Drabble Complete] Memories to 60 Second

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s