[Vignette] You are…

Gambar

Title           : You are….

 

Author       : Fadila Setsuji

 

Genre         : Romance,Family,Sad

 

Length        : Drabble

 

Cast            : Im Yoona ,Kim Jong in

 

Note           : FF ini terinspirasi dari sebuah manga/komik judulnya ‘Promise the Way Back’ dan ditambah dengan instrumen dari Yiruma Ajjushi ^^ Mian untuk beberapa kesamaan scene dengan manganya. Tapi saya telah berusaha untuk merubah alur ceritanya sedemikian rupa(?) agar beberapa scene menjadi berbeda ^^

 

 

 

~Happy Reading~

 

 

 

“Yoona…. Jika ummamu menikah lagi… Kau akan mengijinkannya?”

 

Rasa lapar yang tadinya kurasakan rasanya hilang dalam sekejap. Bahkan mendadak makanan yang tersisa dalam rongga mulutku yang belum sempat terkunyah ini terasa hambar. Berbeda dengan semenit yang lalu saat suapan pertama kumasukan ke dalam mulutku. Mungkin… Aku terlalu terkejut dengan beberapa kata yang baru saja terucap dari mulut appa.

 

“Jin..ja?”Tanyaku. Kutatap mata appa yang kini mulai terdapat keriput itu. Wajahnya terlihat sedikit menampakkan rasa sedih saat kulayangkan pandangaku pada beliau. Hanya beberapa detik wajah itu berubah sedikit murung, sebelum akhirnya beliau menatapku dan menampakkan sebuah senyum tipis. Lantas menganggukkan kepalanya

 

“Chukkhae….”Ucapku lirih. Aku tak tahu mengapa sepenggal kata itu meluncur dari mulutku.

 

Krreekk

 

Terdengar bunyi gesekan kursi dan lantai begitu kuputuskan untuk mengakhiri makan malamku saat itu.  Dan sekali lagi, appa menatapku

 

“Yoona-ah….”

 

“Appa…. Bisakah kau mengatakan ucapan selamat dariku untuk umma?”

 

“Ne…. Akan appa sampaikan”

 

Kulayangkan senyum sebelum akhirnya aku berbalik memunggungi appa dan melangkah pergi menuju kamarku. Kututup pintu kamarku dan menguncinya. Kubiarkan cahaya bulan yang masuk dari sela sela tirai yang menerangi kamarku. Aku bukan tipe yang menyukai kegelapan, namun untuk sekarang hatiku menginginkan cahaya rembulan yang menerangi ruangan ‘milikku’

 

Kutatap rembulan malam sambil duduk di bibir jendela kamarku. Membiarkan angin malam menerpa kulit wajahku. Membiarkan rasa dingin merasuk hingga ke bagian lainnya di tubuhku. Kutatapi langit yang mulai terlihat mendung, dan awan hitam yang mulai menutupi sebagian permukaan bulan. Membuat cahaya bula semakin berkurang. Dan tanpa terasa tetes demi tetes hujan mulai membasahi tanah. Menciptakan bunyi bunyian khas dan juga aroma airhujan yang bercampur dengan tanah. Dan aku masih saja terus menatap keluar sambil sesekali dengan sengaja membiarkan tetesan hujan itu menyentuh permukaan kulit kakiku. Dingin namun tak cukup untuk membuatku berhenti. Seakan aku telah kebal dengan rasa dingin.

 

‘umma…. Takkan lagi menjadi ibuku?”

 

Pertanyaan itu terucap begitu saja dari mulutku. Dan aku tahu takkan ada jawaban yang akan kuperoleh meskipun seribu kali pertanyaan itu kulontarkan dari mulutku. Namun meski begitu, terdapat setitik rasa lega saat pertanyaan itu meluncur dari mulutku. Bersama dengan itu, sedikit demi sedikit mataku terasa menghangat. Pandanganku mulai terhalau cairan bening yang kini hampir memenuhi pelupuk mataku. Itu airmata yang kuyakin akan membanjiri wajahku takkan lama lagi

 

“Appa…. Aku ingin menangis malam ini saja”

 

Setelah meminta izin secara ‘tak langsung’ dari appa, airmataku pun kini jatuh. Seperti airhujan yang membasahi permukaan kakiku, begitupun dengan airmataku. Jatuh begitu saja. Aku tak ingin menujukkan hal seperti ini di depan appaku. Aku tak ingin membuatnya sedih. Sudah cukup dengan perpisahan appa dan umma yang kutahu menorehkan luka dalam hatinya. Aku tak ingin menambah luka ataupun beban pikiran yang mungkin akan mengganggu pikirannya. Biarlah aku menjadi tegar di hadapan appa. Biarlah aku memendam sendiri semua uneg uneg yang kurasakan. Biarkan aku untuk tidak membagi luka bersama appa. Biarkan aku hanya membagi senyum untuknya. Biarkan aku menciptakan angin segar untuknya dengan senyumku….

 

Kujauhkan kakiku yang kini basah karena hujan,kemudian mendekapnya. Kubenamkan wajahku pada kedua tanganku dan membiarkan kulit di tanganku merasakan sentuhan cairan hangat dari mataku

 

.

 

.

 

.

 

#Flashback

 

“Appa,umma…. Ayo kesini”

 

Ini merupakan bagian dari cerita indah dalam hidupku yang kini membayang di benakku. Kenangan indah saat usiaku baru menginjak tujuh tahun. Yang kuingat, saat itu aku bersama appa dan umma tengah tertawa riang memandangi jernihnya air sungai dengan beberapa makhluk hidup kecil yang tinggal di sana. Berenang kesana kemari hingga membuatku tergerak untuk terus mengejarnya.

 

Yoona-ah… Jangan jauh jauh yah?”

 

Suara lembut umma terdengar olehku. Aku mengangguk mantap saat itu dan kembali mengejar ‘objek’ yang sejak tadi menjadi incaranku itu. Aku terus mengejarnya hingga kurasakan tubuhku diangkat oleh seseorang. Dan itu adalah appaku

 

“Appa…. Aku ingin mengejar berudu itu”

 

Appa saat itu menggelengkan kepala seraya tersenyum. Dan tentu saja itu membuatku mengerucutkan bibirku. Aku saat itu masih tak cukup mengerti tentang bahaya dan segala hal lainnya yang mungkin saja merenggut nyawaku. Dulu aku kesal karena kurasa appa menggangguku. Namun ketika aku tumbuh semakin dewasa aku justru sangat berterima kasih. Jika bukan karena itu, mungkin aku akan terbujur kaku karena tenggelam

 

“Umma…. Appa jahat. Aku kan….”

 

“Yoona-ah…. Kau harus tahu, appa melakukan itu karena menyayangimu. Yoona  kan anak baik, jadi harus tahu hal itu,ok?”

 

Umma dan appa tertawa sambil menatapku. Saat itu aku merasa cukup paham meski tak sepenuhnya bisa menangkap maksud dari kata kata umma. Namun meski begitu kata kata itu lantas membuat rasa kesalku rasanya berkurang pada saat itu.

 

“kyaaa”

 

Aku memekik girang saat appa meraih tanganku dan bersama dengan umma mengangkatku seperti sedang menaiki ayunan. Mereka terus mengayunku hingga membuatku terus memekik gembira. Mereka pada saat itu tertawa dan sesekali kudengar tengah membicarakan sesuatu yang kuyakin hanya orang dewasa seperti mereka yang tahu.

 

Sedikit membuatku berharap dengan kembali teringat akan kenangan itu. Sedikit membuat hatiku berkeinginan untuk dapat kembali ke masa itu. Membiarkan waktu demi waktu berlalu dengan tawa….

 

Namun…. Harusnya aku berpikir realistis. Harusnya tak pernah kuharapkan itu. Karena itu…. Kini mustahil untuk terjadi….

 

#flashback end

 

Mataku terasa telah cukup lelah untuk menangis. Dan begitu tersadar, kulihat tanganku yang telah basah oleh airmata. Kubiarkan saja dan langsung merebahkan tubuh diatas kasur milikku. Dan perlahan, angin malam menghantarkanku hingga terlelap.

 

.

 

.

 

.

 

“Aku benci sekali dengan ibuku. Kenapa mengajak adikku berlibur dan lantas membiarkaku di rumah dan menghabiskan waktu untuk mengikuti les bodoh itu? Menyebalkan!”

 

“Aku juga kesal pada ibuku. Tak membagiku uang jajan dan malah memarahiku karena nilaiku. Padahal kan aku sangat ingin berbelanja”

 

Tanpa umma di hidupku sekarang, rasanya aneh. Aku tak bisa lagi terlibat dalam pembicaraan pembicaraan atau sekedar gurauan mengenai kehidupan sehari hari. Aku merasa seperti ‘berbeda’ ketika harus menceritakan kehidupanku. Aku merasa tak sama dengan mereka. Keluargaku tak lagi utuh dan…. Aku tak ingin memikirkannya

 

“Yoona, kau baru baru ini bagaimana? Apakah liburanmu menyenangkan?”

 

Jessica,temanku tiba tiba saja menanyaiku. Dia terus menunggui jawaban dariku atas pertanyaannya. Aku sungguh tak ingin menjawabnya. Karena memang tak ada jawaban yang harus kukatakan padanya

 

“Yoona-ah…. Ppalli! Aku kan…..”

 

“DUDUK DAN KEMBALI TENANG!”

 

Itu suara Kim songsaengnim. Suara berat dan menyeramkan yang seminggu sekali terdengar di kelas ini. Beliau adalah guru bimbingan konseling yang biasanya datang untuk menyampaikan sesuatu. Tapi aku tak tertarik mendengarkannya.

 

Kupasang headset milikku dan pandanganku terfokus pada awan awan putih yang menggelantung di langit. Bergerak dengan perlahan. Dan inilah bagian yang kusukai dari ‘pertunjukan’ langit. Awan bergerak

 

.

 

.

 

.

 

#Flashback

 

“Umma…. Apa aku bisa meraih awan?”

 

Kuangkat tanganku dan berusaha menggapai awan putih itu.Saat itu aku dan umma tengah menikmati angin di musim panas dan sibuk menatap langit. Aku duduk di pangkuan umma dengan umma memelukku cukup erat. Menjaga diriku yang hiperaktif ini agar tak jatuh.

 

“Eum…. Mungkin….”

 

“Jika aku besar nanti, akan kuambilkan awan itu untuk appa dan umma”

 

“Janji?”

 

“Ne!”

 

Aku dan umma menautkan jari kelingking kami. Kemudian tertawa dan kembali menatap langit sambil memakan beberapa potongan semangka segar. Awan itu…. Tetap saja tak bisa kuraih meski kini aku telah tumbuh dewasa. Aku menjanjikan hal yang takkan mungkin bisa…. Seperti keluargaku yang takkan bisa lagi menjadi seperti dulu…

 

#Flashback end

 

 

 

“Umma…”

 

Aku menggumamkan namanya lagi. Aku berharap bisa membencinya. Tapi pada kenyataannya… Aku pun seringkali merindukannya.Umma…. Harus bagaimana aku untuk mengatasi perasaan ini?

 

“Annyeong. Kim Jong In  imnida”

 

Tuk

 

Earphoneku tiba tiba saja terlepas dan jatuh. Begitu aku mengambilnya, kulihat…. seorang namja kini berdiri tepat di hadapanku. Aku tak mengenalnya

 

“Nugu….Seyo?”

 

“Annyeong. Jong In imnida”Ucapnya sambil tersenyum. Kuperhatika wajahnya seksama. Mungkin saja dia teman sekelasku,mengingat aku tak begitu bisa mengakrabkan diri dengan anak laki laki. Jadi mungkin saja aku yang tak mengenalinya padahal kami belajar dalam ruangan yang sama

 

“Eoh”

 

Aku menatapnya lagi, dan dia terus saja tersenyum padaku. Aneh, itulah kesan pertamaku terhadapnya. Dia membungkuk padaku dan kemudian duduk di samping tempat dudukku. Yah memang tempat di sebelahku ini selalu kosong. Katanya tak ada yang nyaman dengan tempat di belakang.Hanya aku…. Si anak dengan hati yang kesepian yang mau duduk di tempat ini. Dan kini…. Seseorang mau menempati bangku di sebelahku.

 

“Yoona-sshi…. Bisa kupinjam catatanmu? Aku….”

 

“Kau…. Sering sakit sehingga tidak masuk?”

 

“Aniyo. Aku…. Siswa baru”

 

“HEEHH????”

 

Tanpa sadar mataku melotot saking terkejutnya.Bahkan kepalaku sempat terantuk dinding dan itu sangat sakit rasanya. Aku terlihat bodoh dan mereka menertawakannya. Tapi…. Tidak dengan namja bernama Jong in itu. Si murid baru yang… Tahu namaku? Bagaimana bisa?

 

.

 

.

 

.

 

Namja bernama Jong in itu terus saja mengatakan berbagai hal padaku. Meski tak begitu tertarik,namun aku berusaha menjadi pendengar yang baik saja. Hanya sebagai bentuk sikap menghargai orang lain. Sesekali dia tersenyum saat bercerita dan seringkali tampak ekspresi ekspresi lucu dari wajahnya saat bercerita. Membuatku merasa sedikit terhibur.

 

“Hei,Kim. Ayo kita bermain basket”

 

Terdengar seruan seorang teman sekelasku bersama temannya yang lain,mengajak Baekhyun bermain bersama mereka. Tiba tiba saja Jong in menggenggam tanganku

 

“Ayo ikut bersamaku”

 

“Tapi kan kita-”

 

Jong in tak lantas mendengarkan ucapanku, dan menarik tanganku agar aku mengikutinya. Seenaknya memang, tapi… Aku pun tak dapat menolaknya

 

“Yak, kau ingin mengajak Yoona bermain basket?”Tanya seseorang diantara mereka

 

“Aku bisa menang jika ada Yoona”Ucap Jong in yang kemudian tersenyum usil.

 

“Yoona-ya…. Dia menjadikanmu jimat hidupnya”Ucap Chanyeol menggoda. Dia pun lantas bersiul menggodai aku dan Jong in “Semoga cinta kalian bersemi”

 

“Yak!”

 

Kualihkan pandanganku pada Jong in. Dia tak memberi komentar apapun, dan hanya memalingkan wajahnya. Dan bisa kulihat daun telinganya….Memerah

 

“Kami pergi yah”Ucap Jong in. Kami pun akhirnya pergi menuju lapangan basket, namun dengan mengendap endap karena saat itu memang masih jam pelajaran. Hanya saja Jang songsaengnim tak bisa datang ke sekolah karena sedang mengurusi sesuatu yang penting. Jadinya kelas kami kosong pada jam tersebut

 

Dulu, hanya adikku yang seringkali melakukan hal ini padaku. Biasanya dia menarikku seperti ini agar aku mau membelikannya es krim. Kini… Adikku telah tiada. Dan ketiadaannya itulah yang kurasa menjadi pemicu utama perpisahan kedua orangtuaku….

 

.

 

.

 

.

 

#Flashback

 

“Unni….. Belikan aku es krim”

 

Yeon Jae-adikku- terus saja merengek rengek untuk dibelikan es krim. Saat itu appa dan umma tengah bekerja dan kebetula aku sedang tak enak badan. Aku putuskan untuk izin pulang dan ternyata Yeon Jae sudah kembali.

 

Yeon Jae-ah…. Umma kan melarangmu makan es krim?”

 

“Ani ani aniyo! Aku ingin es krim!!!”

 

Yeon Jae terus saja merengek rengek dan akhirnya membuatku mengalah. Kuajak dia untuk membeli es krim di sebuah kedai yang letaknya di seberang jalan besar yang tak jauh dari rumahku.

 

“Unni, aku ingin kesana

 

Yeon Jae!!! Ayo ke….”

 

Seketika tubuhku berhenti dan kemudian terdiam kaku. Mataku membelalak begitu melihat kejadian naas di hadapanku. Yeon Jae…. Baru saja terhempas ke trotoar jalan setelah sebuah truk besar tepat menabrak tubuhnya

 

YEON JAE!!!”

 

Aku berlari secepatnya menuju ke bagian trotoar di sebelah jalan. Tangisku saat itu pecah begitu melihat cairan merah segar mengalir dari dalam kepalanya. Matanya terus saja terpejam… Hingga…. Tak kurasakan lagi detakan pada jantungnya…

 

.

 

.

 

.

 

Plak

 

Tamparan keras dilayangkan umma tepat di wajahku. Beliau menatapku dengan deraian air mata di wajahnya yang terlihat begitu jelas. Aku… Saat itu merasakan rasa bersalah yang teramat dalam kepada adikku dan juga beliau. Aku tahu…. Dan bisa merasakannya. Beliau amat terpukul dengan semuanya, sampai sampai menamparku seperti ini. Namun… Aku yang pada saat itu hanyalah seorang anak dengan pemikiran yang masih sempit dan labil itu lantas meluncurkan kata kata yang seharusnya tak kuucapkan…

 

“JIKA UMMA LEBIH MENYAYANGINYA,TAK PERLU MENGANGGAPKU SEBAGAI ANAKMU!”

 

Kutatap ummaku saat itu dengan airmata yang berlinang. Itulah yang sejak dulu kurasakan… Suara hatiku yang terus kupendam rapat akhirnya keluar begitu saja. Jujur… Sejak kelahiran adikku umma seringkali menjadikanku yang kedua. Aku iri pada adikku sendiri….

 

Aku pun berlari menuju ke dalam kamar, menangisi hal yang saat itu aku tak tahu. Aku merasa aneh, tiba tiba saja menangis, namun…. Aku hanya mengikuti naluriku. Aku hanya ingin menangis saat itu.

 

.

 

.

 

.

 

Setelah sebulan berlalu…. Semuanya terasa hancur. Umma tak lagi makan dengan semestinya, appa tak lagi bisa menenangkan umma, dan aku…. Hanya sanggup memandangi semuanya dari balik pintu. Bersembunyi karena rasa takut dan bersalah yang teramat menyakitkan. Itu semua terus berlanjut hingga….. appa dan umma bercerai

 

#Flashback End….

 

 

 

“Yoona…. Kau menangis?”

 

Aku tersentak ketika mendengarnya mengatakan aku menangis. Aku pun tak sadar, telah meneteskan cairan bening tersebut. Tubuhku tak memberiku pertanda. Itu…Airmata itu keluar begitu saja….

 

“A…Aniyo. Aku….”

 

“GAWAT! JUNG SAM MELIHAT KITA”

 

Jong in menarik tanganku dan kami akhrnya berlari bersama ketika Jung Songsaengnim melihat kami. Jung songsaengnim memang sering sekali melakukan ‘aksi kejar kejaran’ dengan murid yang….Bisa dibilang seperti kami sekarang ini. Berkeliaran di saat jam pelajaran. Dan Jung songsaengnim memang dikenal suka sekali menghukum siswa yang tertangkap melakukan pelanggaran dengan kejam. Membayangkan aku harus berakhir dengan hukuman Jung songsaengnim….Sungguh membuatku merasa ngeri

 

“Yoona… Kita sembunyi di sana”

 

Jong in semakin menarik tanganku. Begitu kuat dan cepatnya namja itu berlari, hingga membuatku merasa sedikit kesulitan menyamainya.

 

Bruk

 

Tubuhku jatuh tersungkur. Wajahku hampir saja bergesekan dengan lantai jika tanganku tak segera menjadi ‘pelindung’

 

“Yoona!”

 

Jong in lantas berhenti dan langsung menghampiriku. Dia berbalik dan menghadapkan punggungnya padaku

 

“Wae?”’

 

“Naiklah”

 

“Tapi…. Aku-”

 

“Cepatlah atau kita akan dihukum”

 

Melihat posisi Jung songsaengnim yang semakin dekat membuatku tak punya pilihan. Dengan segera aku menaiki punggung jong in dan mengalungkan tanganku pada lehernya. Jong in lantas berdiri dan kemudian kembali berlari.

 

Punggung ini…. Dengan kuatnya menanggung beban sambil berlari. Bisa tercium olehku harum yang kuyakin berasal dari wewangian yang dipakainya.  Membuatku memejamkan mata…Tanpa kusadari

 

“Kita sudah aman”

 

Suaranya yang terdengar lembut itu membuatku kembali membuka mata. Jong in lantas berjongkok dan akhirnya kami pun duduk pada bawah meja yang terletak di ruang tersebut. Yang aku tahu… Kami tengah berada di ruang kesehatan. Bisa kutahu hanya dengan melihat sebuah ranjang yang disekelilingnya terdapat tirai putih yang menggantung, mengitari sekitar ranjang tersebut

 

“Yoona…. Apa itu sakit?”

 

“Eoh?”

 

“Itu…Lukamu”

 

Kuarahkan pandanganku pada Jong in yang tengah menunjuk luka pada lututku.Kulihat luka itu mengeluarkan darah segar. Namun…. Anehnya saat Jong in menggendongku tadi aku tak menyadari luka ini sama sekali. Bahkan tak sedikitpun perih dari luka ini kurasakan

 

“Ah, ini pasti karena terjatuh tadi”Ucapku

 

“Ya! Tunggu sebentar, akan kuambilkan obat dan perban disana”

 

Jong in lantas berjalan menuju tempat diletakkannya kotak obat dan langsung menyerahkannya padaku begitu dia kembali menghampiriku

 

“Ini. Tapi…. Maaf aku tak bisa mengobatimu. Aku… Takut melihat darah”

 

Jong in lantas memejamkan matanya, membuatku terkekeh. Ini pertama kalinya aku bertemu dengan orang seperti dirinya, yang begitu takutnya melihat darah.

 

“Kau tunggulah di sana, aku akan mengobati lukaku dulu”Ucapku

 

“Tapi….”

 

“Atau… Kau ingin tetap disini dan… Mungkin akan melihat darahku?”

 

“Arraseyo”

 

Jong in menurut dan langsung mengambil posisi duduk di sana. Menungguiku yang tengah mengobati luka. Dia…. Terlihat lucu menurutku

 

=You Are=

 

“Jong in-ah…. Sudah selesai”

 

Aku tak mendengarnya menyahutiku. Bahkan aku tak melihat bayangannya di sana, padahal sebelumnya sempat kulihat bayangannya.

 

Aku pun menghampirinya. Menyibakan tirai yang menutupi tempat itu dan…. Kulihat namja itu tengah tertidur. Bahkan dengkuran halusnya terdengar olehku, walaupun samar.

 

Entahlah…. Namun aku merasa tubuhku bergerak mendekatinya tanpa kusadari. Tubuh ini semakin memperkecil jarakku dengannya. Bahkan semakin lama, bisa kurasakan hembusan nafasnya mengenai wajahku

 

“Eum….”

 

Jong in tiba tiba saja menggeliat, membuatku terkejut hingga membuatku reflek menjauhkan diri darinya

 

“Apa…. Aku tertidur?”

 

Tanyanya padaku begitu dia terbangun. Dia tengah sibuk mengusap matanya dengan kedua telapak tangannya. Dan aku hanya bisa berdiam diri tanpa berani menatapnya

 

“Yoona…. Ada sesuatu?”Tanyanya (lagi) padaku

 

“A…Aniyo. Ayo kita ke kelas”

 

=You Are=

 

“Yoona…. Maukah kau pulang bersamaku?”

 

Jong in menghampiriku dan tiba tiba saja menawariku untuk pulang bersamanya

 

“Mian tapi…”

 

“Jebal. Aku kan baru saja pindah kesini, jadi…. Aku ingin kau menujukkan tempat bagus disini”

 

Kupikir…. Tak ada salahnya membantu dirinya mengenali lingkungan hidupnya yang baru. Toh aku juga tak memiliki kegiatan apapun setelah ini

 

“Baiklah…..”

 

Akhirnya kami pun pulang bersama. Kami menyusuri sepanjang trotoar jalan dengan tanpa ada satupun yang memulai topik pembicaraan.

 

“Yoona-ah”

 

Suaranya tiba tiba saja memecah keheningan yang tadi sempat kurasakan. Kulihat dia kini tengah memandangi sungai dari atas jembatan. Sungai itu…. Tempat kepingan kenangan akan masa laluku. Disana…. Yang kuingat selalu ada aku, eomma, dan appa yang tengah memainkan kembang api saat perayaan tahun baru….

 

“Yoona”

 

“Eum?”

 

“Bisakah…. Kau mengantarku untuk melihat lihat kesana?”

 

“Tapi….”

 

Tanpa menunggu jawaban dariku, Jong in langsung menarikku hingga kami pun menuruni satu demi satu anak tangga di pinggir jembatan, hingga setelah kami menuruni anak tangga terakhir, kami pun kini telah disuguhkan pemandangan sungai tersebut. Airnya masih jernih dan pemandangan di sekitarnya banyak yang belum berubah. Nyaris masih seperti dulu, saat aku masih sering ke sini.

 

“Oh iya… Kau suka bunga liar disana?”

 

Jong in tiba tiba saja menanyaiku sambil menunjuk sekumpulan bunga liar yang memang sejak dulu tumbuh pada sebuah batu yang terletak hampir di tengah sungai itu

 

“Eoh?”

 

“Biar kuambilkan untukmu”

 

“A-aniyo. Kau tak perlu….”

 

“Aku pasti mengambilkannya untukmu. Kau menyukainya bukan?”

 

“Aku….”

 

Jong in langsung melepas sepatunya dan dia pergi mengambil bunga tersebut. Dia lantas berbalik dan langsung kembali dengan bunga di tangannya

 

“Ini”

 

Dengan ragu, kuambil bunga itu dari tangannya. Bunga ini…. Memang sejak dulu begitu ingin kuambil, namun aku tak pernah bisa mengambilnya. Dan sekarang…. Bunga ini berada di genggamanku, karena namja di hadapanku ini. Kim Jong in….

 

“Yoona….”

 

“Wae?”

 

“Aku…. Akan men-”

 

Drrttt

 

Tiba tiba saja handphoneku bergetar. Dengan cepat kurogoh tasku dan langsung mengangkat telpon dari appa itu

 

“Appa? Wae?”

 

“……”

 

“Arra….”

 

Kuakhiri pembicaraan singkat itu dan langsung menutup telpon.

 

“Mian… Aku harus pulang”

 

“Eng….. Ba- Baiklah”

 

Kebersamaan singkat kami itu harus berakhir karena aku harus segera pulang….

 

=You Are=

 

“Appa….”

 

“Besok…. Kau  akan appa antar ke rumah umma. Kau harus menjadi saksi pernikahan umma”

 

Perkataan yang terasa menohok hatiku. Umma… Besok akan menikah dengan pria yang entah siapa. Dan mungkin…. Aku takkan lagi menjadi anaknya dan umma takkan lagi menjadi ibuku

 

“Arra. Aku akan pergi sendiri saja. Appa urusi saja pekerjaan appa”

 

“Ne. Terima kassih atas pengertianmu Yoona”

 

“Eoh”

 

Kulangkahkan kaki menaiki satu demi satu anak tangga dan langsung mengurung diri di dalam kamar.

 

“Umma…. chukkae”Gumamku dalam tangis

 

=You Are=

 

Pagi itu, aku pergi ke terminal bis lebih pagi dari biasanya. Hari ini appa telah memberitahu wali kelasku agar aku bisa menghadiri upacara pernikahan eomma. Dan aku tengah menunggu bis datang. Bis yang akan mengantarku ke rumah eomma

 

Lima belas menit kutunggui bis datang hingga akhirnya aku berada di dalam. Hanya beberapa orang saja yang kulihat di dalam bis itu. Mungkin karena ini masih begitu pagi.

 

Kuamati pemandangan di sekitar dari balik jendela. Masih banyak yang belum berubah sejak aku meninggalkan tempat ini dan memutuskan untuk tinggal bersama appa.

 

Setengah jam lamanya perjalananku. Hingga kemudian bis berhenti dan aku segera turun dari bis tersebut. Aku kembali lagi… Ketempat ini.

 

Aku masih ingat dengan beberapa tempat disini, termasuk rumah kami dulu yang kini telah ditinggali eomma. Dengan ragu, kutekan bel rumah begitu tiba di depan gerbang rumahku yang dulu

 

“Siapa?”

 

“Ini…. Aku. Yoona”

 

Umma membukakan pintu untukku. Beliau kini tampak bahagia. Bisa kulihat dari ukiran senyum yang tersungging dari bibirnya saat menatapku

 

“Umma…”Ucapku lirih

 

“Ne. Ayo kita masuk Yoona-ah”

 

Umma mengajakku masuk ke dalam. Kuamati keadaan rumah ini yang ternyata sama sekali tak berubah. Desain interiornya bahkan tak ada yang berbeda dari apa yang kuingat. Hanya… Aku tak lagi menemukan foto kami disana. Foto kami bertiga…. Aku, appa dan eomma

 

“Yoona…”

 

“Eum?”

 

“Bisa kau temui seseorang disana?”

 

“Siapa?”

 

“Orang yang akan menjadi saudara tirimu. Dia seusia denganmu dan dia baru saja tiba disini tadi sebelum kau”

 

Ucapan umma membuatku tersentak. Saudara tiri?

 

“Kau ingin menemuinya?”

 

“Ah, oh… Ne, umma”

 

Aku melangkah menuju tempat yang ditunjukkan umma barusan. Perlahan, kubuka pintu yang memjadi pembatas ruangan itu. Kulihat seorang namja tengah berdiri membelakangiku dengan posisi menghadap jendela. Beberapa saat aku tercengang ketika namja itu mulai berbalik, membuatku makin bisa melihat wajahnya. Aku baru bisa mengetahui siapa namja di hadapanku ini saat dia berbalik dan menatapku. Anehnya, namja itu tak sedikitpun memperlihatkan ekspresi keterkejutannya saat melihatku

 

“Jadi….Kau……”

 

“Maaf karena aku terlambat mengenalkan diri padamu. Aku…. Akan menjadi adik tirimu, Ihm Yoona…”

 

Jong in…. Namja itu ternyata… Adalah orang yang dimaksud umma. Namja ini… Akan menjadi saudara tiriku….

 

=END=

 

Gaje yah? Mian (_ _)*DeepBow

 

Ini salah satu FF aku yang aku ganti castnya jadi Yoona-Kai,karena aku suka couple ini J

 

Dan FF ini memang sengaja aku bikin endingnya menggantung,karena aku berusaha menyamakan endingnya dengan komik yang aku baca itu,meskipun secara keseluruhan nggak semua aku bikin sama. Kalo di endingnya mereka menyatakan perasaan dan berjanji(?) Tapi di FF ini justru berakhir dengan Yoona yang akhirnya tau siapa Kai yang ‘sebenarnya’

 

Yaudah,aku nggak ingin banyak nyerocos(?) lagi. Aku hanya berharap kalian suka dengan alurnya J

 

 

 

 

 

 

Tentang FadilaHan

"Kenaliku melalui tulisan... Tulisanku."
Pos ini dipublikasikan di Fanfiction dan tag , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke [Vignette] You are…

  1. Whielf berkata:

    Gak ad sequel.a thor?

  2. ana berkata:

    yah ternyata yoona eonni bkalan jd saudara kai oppa.. padahal aku brharapnya sh engga.. adain dong thor crta lanjutannya.. hehehe.. keep writing ya

    • FadilaHan berkata:

      Sebelumnya makasih udah ninggalin komentar yah ana~~😀

      Iya. Versi aslinya juga aku bikin sama endingnya😀 Aku belum tahu… Soalnya ide juga lagi korslet(?)

      Iya,makasih yah😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s