[Part I] Goodbye Day (Chen-Mahwa)

goodbye days Chen-Mahwa

|| Title : Goodbye day (Chen-mahwa ver) || Author : Fadila Setsuji|| Genre : Romance,Hurt,little bit religious || Length : Twoshot || Main Cast : Kim Jongdae (EXO)-Wu Mahwa (OC) || Support cast : find at the story || BackSound : Rainie Yang-Ai Mei

Note

mudah-mudahan BG songnya selaras dengan storyline

Disarankan untuk membaca beberapa drabble yang (mungkin) memiliki keterkaitan dengan fic ini

|| Goodbye Day (Chanyeol-Sulli-Kris Ver) || Goodbye Day (Yoona-Kai Ver) ||

.

.

.

=Happy Reading=

.

.

.

FadilaSetsuji Present Fiction,2015

.

.

.

Aku…

Adalah lelaki dengan sebuah cinta. Cinta untuk seorang wanita,yang begitu ingin kumiliki,ingin kujaga…

Namun,Tuhan tak memberi restu. Tuhan menyatakannya,dengan Kuasa yang tak tertanding…Bahkan oleh cinta kami

Namun ditengah harapan yang semakin pupus,dia berbisik lembut padaku

“Mungkin bahagia kita…Ada di surga”

.

.

.

Author POV

@Cina . Pagi hari,waktu setempat…

 

Appamu…Akan segera menikah tahun ini?!”

Jongdae,lelaki yang baru saja menapaki jalanan di negeri tirai bambu itu sontak dibuat terkejut dengan kabar yang baru saja melewati indera pendengarannya. Kabar yang disampaikan oleh bocah yang tingginya tak lebih dari batas pinggang lelaki itu. Jongdae kemudian menurunkan posisi tubuhnya,menyejajarkan posisinya dengan bocah itu “Dengan siapa,Daniel-a?”

“Heum?” Bocah bernama Daniel itu berkedip,menatapnya bingung

“Calon ibu baru…”Jongdae segera meralat kata-katanya “ah,maksudnya ibumu…”

Daniel kemudian mengangguk “Sulli eomma!

“Maksudmu… Sekretaris appamu itu?”

Ne! Majayo!

Jongdae tersenyum kemudian mengelusi pucuk kepala bocah enam tahun itu “haenbokkae,Daniel-a?”

“Heum!”Dia bergumam riang. Binar bahagia terpancar dari mata bocah laki-laki itu”aku senang jika eommaku adalah Sulli ajjuma~~”

“Jadi… Kau tidak senang dengan Yeonhye eomma selama ini?”

Aniya,samchon~~”daniel berucap seraya menggeleng. Wajah manisnya semakin terlihat menggemaskan “Bukan seperti itu!”

“Lalu?”

“Aku menyayangi eomma dan begitupun dengan Sulli eomma“ujarnya “dan kata Yoona ajjuma mereka akan selalu menjadi orangtuaku. Yeongweonhi

Mendengar penuturan bocah lelaki itu,sebuah rasa merasuki hatinya. Rasa yang melegakan

Syukurlah… Kini mereka mendapatkan kebahagiaan masing-masing

jongdae berucap dalam hatinya. Kehadiran juga penuturan yang teramat jujur dari mulut putra tunggal pemimpin SM Corporation itu untuk sejenak mengikis rasa bersalahnya terhadap Kris. Rasa bersalah dengan apa yang terjadi dalam rumah tangga duda mapan itu dengan sang mantan istri,wanita yang kini memberikan cinta untuk sang kakak.., Kim Minseok…

Samchon!

Eoh? Waeyo?”

“Bantu Daniel mencari hadiah untuk Sulli eomma,yah?”

Jongdae tersenyum “tidak mengajak ayahmu saja?”

Ani

Wae?”

“Nanti appa akan tahu hadiah Daniel,dan mungkin appa akan membelikan hadiah yang lebih bagus daripada yang kuberikan,samchon~~

Dia rupanya tidak ingin disaingin ayahnya

“Baiklah,baiklah” Jongdae mengiyakan “Daniel jadi anak baik dan samchon akan menemanimu sore nanti,bagaimana?”

“Heum! Arraseyo,samchon“ujarnya riang “Jalhanda,samchon!

Daniel mengedipkan sebelah matanya sebelum akhirnya menarik lengan Jongdae. Membuat lelaki yang mengenakan setelan jas abu-abu itu ikut berlari bersamanya. Mereka bersama-sama menuju ke sebuah rumah diseberang jalan sana. Rumah yang tak pernah Jongdae lupakan. Rumah yang pernah ditempati Kris Wu bersama sang mantan istri…

*

Eoh, *Kim Shou-ling, nín hǎo ma? Wo hén kau-sing cien-tau ni!“(Kepala Kim,bagaimana kabarmu? Aku benar benar senang berjumpa denganmu)

Pó-fu Kris itu langsung membawa tubuh seorang Jongdae kedalam dekapannya. Pria bertubuh gemuk itu beberapa kali terlihat menepuki punggung Jongdae. Sakit..,tentu saja. Mengingat perbedaan bobot dan tenaga yang dimiliki masing masing,sulit membayangkan jika seorang Kim Jongdae takkan merasakan apa-apa pada punggungnya.

“Paman besar… Jongdae samchon kesakitan~~”

Terima kasih untuk anak kecil yang mendadak berubah menjadi malaikat penyelamat..,Wu Daniel

Lelaki bertubuh buntal itu segera menjauhkan tubuh Jongdae dari tubuhnya. Takut-takut dia akan menyakiti lelaki itu lagi–tentunya bukan dengan sengaja “ah,.., Lien-ling*(maaf). Aku terlalu bersemangat sepertinya”

“Ah, *Mei guan xi, Pó-fu(Tidak apa-apa,paman) “Jongdae tersenyum. Setidaknya membuat pria itu tak sampai dihinggapi rasa bersalah terhadapnya,meski jika ingin jujur… Punggungnya masih merasakan sakit yang cukup.

Untuk sejenak..,lelaki Kim itu lega.

‘Gomawo Daniel-a’diam diam lelaki bermarga Kim itu berterima kasih pada sosok bocah yang kini sibuk berlari menghampiri seseorang.

Gadis dengan balutan kemeja berlengan panjang,lengkap dengan sehelai kain halus yang menyelubungi hampir sebagian besar kepalanya. Hanya menyisahkan wajah yang… Indah.

Jongdae terpana. Waktu seperti membuatnya membeku. Semua terasa hilang,kecuali sosok yang kini tengah tersenyum menyambut jemari kecil Daniel Wu…

Siapa..?

“Ini putriku… Wu Mahwa namanya”Tuan berbadan besar itu baru saja menjawab tanya yang mengganggui pikiran Jongdae,terhitung sejak mata legamnya memaku pada sosok tersebut

N-ne?”Jongdae menoleh pada tuan Wu. Menatap lelaki bertubuh buntal itu setengah melotot

“Itu… Kau pasti belum pernah bertemu dengannya, bukan? Jadi sekalian kuberitahu”pria itu kemudian tertawa. Lapisan lemak yang menumpuk diperutnya itu terlihat bergerak-gerak ketika pria itu tertawa

Jongdae menatap penuh arti sosok tersebut hingga baru menyadari bahwa sosok itu kini menatapnya. Mengikuti instruksi jemari Daniel “Itu Jongdae samchon,nuna!

Sosok itu kemudian tersenyum tipis bersamaan dengan Jongdae yang entah mengapa… Gugup

“Ayo kesana,nuna!

Daniel turun dari gendongan sosok itu dan kemudian berlari kecil kearah Jongdae dan memanggil sosok itu mendekatinya “nuna,ayo kesini”

“Mahwa,kesini nak”lelaki berbadan buntal itu pun memanggilnya. Namun Jongdae juga Daniel sepertinya tak mengerti dengan apa yang diucapkan lelaki itu. Beliau menggunakan bahasa Indonesia saat memanggil sosok yang dikatakannya sebagai putrinya itu

Sosok itu mengangguk dan berjalan perlahan,menghampiri Daniel dan Jongdae “assalamualaikum“dia kemudian berujar dengan volume suara rendah,terdengar lirih. Sambil menempelkan kedua telapak tangannya dengan sedikit membungkuk dihadapan Jongdae.

Lelaki itu bingung dibuatnya…

“Aku menikah dengan ibunya yang orang Indonesia,jadi kalian mungkin bingung dengan caranya menyapa yang sedikit berbeda”

Tuan Wu memberikan sedikit penjelasan yang akhirnya membuat Jongdae mengangguk. Dia kini mengerti “ah…Baiklah.Tidak ada masalah dengan itu”ujarnya dengan menggunakan bahasa Mandarin

Tuan Wu kemudian melempar pandang pada putrinya “Mahwa,dia ini Kim Jongdae..,salah satu sahabat Kris”

Gadis bernama Mahwa itu kemudian mengangguk setelah mendengar ucapan yang terlontar dari mulut sang ayah—yang menggunakan bahasa Indonesia

“Namaku Wu Mahwa”gadis itu kemudian mengenalkan nama secara singkat dengan menggunakan bahasa Mandarin. Beruntung,walau Jongdae adalah penduduk asli korea bagian selatan dia cukup mahir dalam berbahasa Mandarin. Dia adalah kepala bagian perencanaan disalah satu perusahaan milik keluarganya di Cina.

Gadis itu kemudian menunduk “senang bisa mengenalmu”

Jongdae masih membisu… “Samchon,nuna menyapamu!”

…Hingga Daniel secara tiba tiba menyadarkannya “ah,ne... Senang juga mengenalmu”jongdae membalas sapaan itu dengan berbahasa Mandarin–juga

Dan pertemuan itu adalah yang pertama

…Bagi Kim Jongdae dan Wu Mahwa. Dua insan dengan kewarganegaraan yang berbeda pula

Eoh? Appa!!!

Daniel dengan gerakan tiba tibanya itu membuat Jongdae terkesiap hingga tak sengaja membuat bocah itu terlepas dari gendongannya. Bocah itu lantas berlari menghampiri sosok yang kini berdiri diambang pintu. Sosok yang kemudian tersenyum. Disusul oleh seorang lagi yang berdiri tepat disampingnya “kalian sudah berkumpul rupanya. Apa kami membuat kalian menunggu?”Kris melempar tanya dengan menggunakan bahasa Mandarin

Aniya, Kris”

“Baguslah. Ayo kita bersenang senang!

Lelaki itu dengan gembiranya berlari mendekati sosok sang paman dengan Daniel yang masih berada dalam gendongannya “Pó-fu bagaimana bisa kau tidak mengabariku akan berkunjung ke Cina?”

“Biar menjadi kejutan”

Kris mendapati sosok Mahwa “eoh? Mahwa?”

“Ah… Nihao

Kris tersenyum “kau sudah sebesar ini rupanya. Sudah lama sekali yah?”

“Iya”

Sosok lain yang ikut bersama Kris itu kini terlihat menghampiri mereka “nihao…”Ujarnya kemudian

“Ini calon istrimu itu?”

“Iya Pó-fu

Hingga pada akhirnya paman dan keponakan itu terlibat percakapan yang hangat. Mereka berjalan terus hingga lupa jika dua orang yang tadi bersama mereka kini justru berdiri diam

Jongdae memberanikan diri melirik kearah Mahwa yang berdiri tak jauh darinya. Mata kelam gadis itu sedikit terhalangi oleh kain halus yang menyelubungi bagian kepalanya tersebut.

Terus memperhatikan sosok itu hingga kemudian telinganya menangkap suara lirih dari Mahwa “kau sekarang begitu bahagia,kak…”

Jongdae tak bisa mengartikan lebih bagaimana atau apa yang dilakukan juga diucapkan gadis berkerudung itu,mengingat dia menggunakan bukan bahasa Mandari juga Korea.

Tetapi bahasa Indonesia

*

“Mungkin Pó-fu akan Ke Seoul dan mengunjungi makam Chanyeol disana”

Mereka telah mendudukkan diri masing-masing pada kursi yang berjajar rapi. Menghadap langsung kearah taman belakang dirumah itu. Meski tidak ditinggali untuk waktu yang lama,namun Kris tetap melakukan penjagaan sekaligus perawatan untuk rumahnya itu. Dengan menyewa tenaga seorang pekerja,Xin Yui-Rei. Gadis yang kini tengah menemani Daniel bermain ditaman.

Sementara mereka tengah mengobrol,Mahwa memilih duduk di salah satu kursi yang membelakangi mereka–yang mengobrol. Dipikirnya dia hanya sendiri,sehingga kini dia sibuk melamunkan sesuatu yang entah apa. Dia tak menyadari sosok Jongdae yang kini mengisi kursi kosong yang berada tepat disampingnya.

“Kau..,senang berada disini?”

Hingga secara tiba-tiba suara Kim Jongdae membuat gadis itu menoleh. Menatap lelaki itu dengan sedikit melotot “Museun… Soriya?”

Tadinya Jongdae tak sampai berpikiran gadis itu akan menanyainya. Apalagi tadi dia–Mahwa menggunakan bahasa Korea.

Apa dia… Bisa berbahasa korea juga?‘pikir Jongdae

“Ah… Aniyeyo“ujar Jongdae “aku hanya melihatmu bersedekap tadi,jadi… Aku menyimpulkan bahwa kau merasa kurang nyaman berada disini,Mahwa-sshi“jelasnya—masih menggunakan bahasa setempat

Gadis itu menatapnya sebentar,kemudian mengangguk. Dia mulai berbicara ketika tatapannya mengarah kedepan. Lurus.

“Aku hanya… Yah,kau benar. Aku memang tidak nyaman”ujarnya dengan jujur. Dan kembali Kim Jongdae dibuat mematung oleh sosok Mahwa “aku merasa asing…”

“…terlebih,padanya”

Siapa?

Gadis itu menunduk… Diam. Hanya terus memandang kedepan. Menerawang kebagian luar dari pintu kaca itu. Namun tak pasti apa yang pemandangan apa yang sedang dia lihat dengan matanya itu. Mata kelam yang indah…

…Dimata seorang Kim Jongdae

Hingga keduanya masih berdiam,larut dengan kebisuan. Tanpa sepatah kata,hanya gemerisik angin yang sesekali memainkan dedaunan yang terdengar. Sampai kemudian sebuah suara menghentikan keheningan itu. Menghapus kebisuan itu,membuat mereka menoleh

“Ayo kita makan. Apa kalian tidak merasa lapar?”

Suara dari Kris Wu. Lelaki yang memiliki punggung indah… Dimata seorang Wu Mahwa.

.

.

.

“Jadi..,kau berencana memulai usaha di Indonesia?!”

Semua—mungkin—dibuat terkejut dengan berita yang baru saja disampaikan Jongdae. Sementara sang pembawa kabar justru bersikap tenang. Memberi jawaban dengan sebuah anggukan pelan. Sepertinya atemsi terhadap hidangan yang tengah dia santap itu lebih besar ketimbang mengetahui reaksi mereka mengenai rencananya itu

“Woah… Sahabatku ini hebat sekali!”Kris sempat sempatnya melayangkan pujian,bahkan tepukan pelan dipunggung temannya itu. Melupakan bahwa mereka sedang makan. “Aku tak menyangka”

Yak, Kris~~?! Nanti jongdae oppa tersedak!/appa!!!

Sulli yang duduk tepat berhadapan dengan Kris dan buah hati Kris,Wu Daniel menegur sang presdir SM Corporation itu dengan memekik. Membuat lelaki itu menaikkan sebelah alisnya “wae?”

“Kau ini..// kasihan Jongdae samchon!”

Mendadak Kris berubah menjadi seperti seorang ‘pelaku’ dimata calon istri dan putra kesayangannya itu. Mereka lantas kembali me‘ramai’kan suasana di meja makan hingga rasanya bukan tidak mungkin jika seorang Wu Mahwa kembali merasakan ketidaknyamanan dengan semua keadaan itu. Dan sepertinya Kim Jongdae cukup peka untuk bisa mengetahuinya. Lelaki itu menghentikan kegiatan makannya sejenak,meletakkan sendok beserta garpu ditangannya dan segera bangkit. Dia berdiri lalu membungkuk

“Ada apa,Jongdae?”Tanya Kris heran. Hidung lelaki itu mengerut

“Aku…”Jongdae terlihat ragu untuk mengatakan apa yang tadi ingin dia katakan,akan tetapi dengan dirinya yang kemudian berbalik,menatapi mata kelam seorang Wu Mahwa diapun akhirnya memberanikan diri “Bolehkan aku mengajak Mahwa berjalan-jalan,sore nanti?”

*

Samchon hebat..,bukankah begitu nuna?”

Rencana semula antara Jongdae dan bocah kecil keturunan Wu itu sepertinya mengalami sedikit perubahan,karena Mahwa juga ikut bersama mereka. Memasuki tiap-tiap toko yang berjajar disepanjang trotoar didaerah yang terkenal sebagai salah satu pusat perbelanjaan di Cina… Xujiahui

“Eoh”

Dan sepanjang itu,hanya sekali dua kali telinga Kim Jongdae mendengar suara lembut dari gadis yang mengenakan kerudung itu. Selebihnya,bisa diperkirakan bahwa interaksi yang mereka lakukan—antara dirinya dan Mahwa—hampir tak ada. Seringkali hanya Daniel yang memancing topik atau tingkah riang bocah itu yang perlu diarahkan. Intinya,Daniel adalah yang mendominasi diantara dua insan beda gender itu

“Wah,nuna! Samchon! Ayo kita masuk ke toko itu~~”Daniel menarik tangan Jongdae juga Mahwa dengan tangan kecilnya itu. Tanpa ada perlawanan,keduanya membiarkan tenaga yang bocah kecil itu menuntun mereka kedalam sebuah toko yang bertuliskan HAIZI SHOP itu. Jongdae tahu pasti toko seperti apa yang kini mereka masuki itu,hanya dari namanya. Namun,begitu Jongdae melayangkan tatapannya pada gadis yang berdiri disisi kirinya itu dia—gadis itu justru menampakkan kerut disekitar area hidungnya. ‘Pasti dia bingung’ pikir jongdae kemudian

Daniel melepaskan genggamannya tepat ketika kaki mereka telah menginjak pada bagian dalam toko dengan desain unik itu. Para pegawai berseragam bak seorang cosplayer itu tak lupa membungkuk dan melempar senyum serta sambutan ramah. Mungkin,karena ini adalah toko mainan anak…

Jongdae dan Mahwa memilih untuk berdiri tak jauh dari kursi tunggu yang ternyata disediakan khusus disana,sembari tetap memperhatikan gerak gerik seorang Wu Daniel. Dan disaat itulah,Jongdae memberanikan diri untuk mencoba… Mencoba membangun interaksi dengan bagian dari keluarga Wu itu “Mahwa-sshi…”

“Ah,ne?”Gadis itu menoleh ke samping,menatapnya “Waegureyo,Jongdae-nim?”

Jongdae sedikit menundukkan kepalanya sebelum kemudian tersenyum—mencoba tersenyum se alami mungkin “Ah,aku…Hanya penasaran…”

“Pena…saran?”

Eoh

“Adakah hal yang begitu menarik atemsimu hingga bisa membuatmu penasaran?”

“Ada”

Jongdae memberi jawaban singkat lalu menatap tepat pada manik legam itu…

“Itu…dirimu”inginnya Jongdae berkata seperti itu,namun dia memilih untuk tidak mengatakannya,untuk memendamnya saja. Bukan apa-apa,hanya dipikiran Jongdae barangkali jika dia nekat mengatakannya malah akan menciptakan kesan buruk tentangnya dimata seorang Mahwa. Dia tak ingin… “Ah,amugeoteo eopseo

Mahwa menatapnya sekilas,mengisyaratkan kebingungan didalam diri gadis itu namun dengan cepat gadis itu menyunggingkan senyuman. Hal sederhana yang begitu menarik dimata seorang Kim Jongdae,saat itu juga… Demi apapun,itu hal terindah yang ingin Jongdae saksikan meski berulang kali. Itu indah dan…indah.

“Oh yah,Jongdae-nim!”

Lelaki itu sedikit terlonjak ketika suara itu tertangkap oleh telinganya. Dia segera bersikap normal dan kembali menatap lawan bicaranya tersebut “n-ne?”

“Apa kau telah mengenal…,Kris ge cukup lama?”

Entah itu kebetulan atau memang karena Jongdae yang peka… Dia merasakan sesuatu yang lain dari perubahan raut wajah itu. Terselip sebuah penasaran ketika gadis itu berdiam setelah menanyakan hal tersebut pada seorang Kim Jongdae “Ah,ne?”

“A-aniya. Lupakan saj-”

“Kami sudah cukup lama berteman,Mahwa-sshi. Kira-kira sejak sebelas tahun yang lalu…”

Mata gadis itu melebar…Mengisyaratkan penasaran terhadap cerita selanjutnya. Sungguh itu bukanlah sebuah masalah,apalagi bisa berbagi cerita pertemanan yang hingga saat ini bagi Jongdae adalah sebuah bagian indah dari perjalanan hidupnya… Itu bukan masalah. Akan tetapi,tanpa sebab yang pasti…,mulutnya seolah ingin dibungkam. Hati kecilnya seakan ingin menyimpan cerita itu agar Mahwa tak perlu mendengar itu…

“Jong…dae, nim?”

“Ah,jeosonghamnida Mahwa-sshi

Aniya. Eopseo

“Eum…Tadi sampai dimana?”

“Eum…Pertemanan yang kira kira sudah berjalan sebelas tahun?”Mahwa mencoba mengulang ucapan Jongdae dengan gaya bicara khasnya. Dan sadar ataupun tidak,secara perlahan suasana berubah. Atmosfer terasa lebih baik dari waktu yang sebelumnya diantara mereka “Benarkan?”

“Ah,iye. Majayo

“Kupikir…aku bisa mendengarkan kelanjutkannya darimu,Jongdae-sshi?”

“Ah…,geurom

Jongdae berdehem singkat ,sebelum memilih untuk menceritakan kenangan yang tadinya tidak ingin dia ceritakan dihadapan seorang Wu Mahwa…

“Singkatnya,aku adalah keturunan Korea Selatan yang menjadi pendatang di negara ini. Kira-kira usiaku saat itu adalah sembilan tahun. Bukan hal mudah bagi pendatang sepertiku,terutama karena kendala dalam berkomunikasi. Sering sekali terjadi kesalahpahaman antara diriku dengan teman sebaya dilingkungan sekolahku saat itu…”Jongdae mengenang “Dan kau tahu,aku rasanya ingin segera pulang ke Seoul… Menemui ayahku,ibuku dan hyungku… Ya,aku benar benar terpikirkan itu sebelum akhirnya kami bertemu…”Jongdae menjeda sebentar ceritanya dan menatap Mahwa

“Dengan…Kris ge?”

ne”Jongdae mengiyakan “dan itu menjadi satu-satunya hal yang sampai saat ini amat aku syukuri. Tuhan memberiku kawan,juga keluarga lain di Cina selain i-fu dan waipo…”

“Jadi…Bisa kusimpulkan dari cerita yang kau bilang singkat ini…Kau dan Kris ge memiliki hubungan layaknya keluarga?”

“Yah,bisa dikatakan seperti itu”

“Pantas saja,papa kelihatan begitu dekat denganmu, Jongdae-nim

Mendengar penuturan Mahwa itu,Jongdae kemudian terkekeh “Ya. Bagiku Pó-fu adalah sosok yang baik. Figur seorang ayah…”

“Ya,kau benar. Ayah itu teramat baik untukku dan ibu. Dan aku begitu mensyukuri hal itu,hingga saat ini”

“A-ayah?”

Mahwa dengan segera menyadari dirinya yang baru saja menggunakan bahasa Indonesia saat berbicara dengan lelaki yang mampu berbahasa Mandarin serta Korea itu. Mengganti kata ‘ayah’ serta ‘ibu’ yang diucapkannya dengan kata yang bisa dipahami lawan bicaranya tersebut “Maksudku,appa dan eomma”ulangnya dengan bahasa Korea. Gadis ini sedikit lebih fasih menggunakan bahasa Korea daripada bahasa Mandarin,meski yang sebenarnya dalam penerapannya dia mahir menggunakan keduanya.

“Ah~~ Arrayo”Jongdae kemudian mengangguk dengan bibir yang sedikit mengerucut

Dan kembali,dia menatap mata kelam itu “eum..,Mahwa-sshi?”

“Ah,iye?”

“Apa kau…Sering mengunjungi Cina?”Tanya Jongdae

“Eum…”Gadis berkerudung itu tampak mengingat-ingat,sebelum akhirnya tersenyum dan menggeleng “Aniya. Ini adalah kunjungan keduaku di Cina. Aku kurang suka melakukan perjalanan jauh”jelasnya

“Ah..,kupikir dengan kemampuanmu berbahasa Korea serta Mandarin kau memiliki pekerjaan atau sejenisnya yang membutuhkan jasamu untuk…yah..,Penerjemah,misalnya?”

“Penerjemah..? ah,aku ingat pernah ditawari sebuah perusahaan untuk pekerjaan semacam itu”

“l-lalu?”

“Aku menolaknya”

W-wae?”

“Aku merasa terlampau cukup dengan kehidupan serta profesiku,jadi aku terlalu sayang untuk menerima tawaran seperti itu dan meninggalkan pekerjaan yang kusenangi”

“Memangnya…Itu pekerjaan seperti apa,Mahwa-sshi?”

“Yang pasti tak setinggi pangkatmu, Kim Shou-ling” Mahwa lantas terkekeh setelah mengatakan itu. Membuat Jongdae menaikkan sebelah alisnya,sebelum akhirnya memperdengarkan keluhnya

“Heih~~ Apa menyenangkan jika menertawakan jabatanku,Mahwa-sshi?”Tanya Jongdae dengan nada pelan. Segera,gadis berkerudung itu menghentikan kekehannya

Mahwa tersenyum dan berkata “Jeosongiyeyo,Jongdae-nim. Aku sama sekali tidak bermaksud mengejekmu tadi. Hanya itu satu dari banyak kebiasaan anehku”

“kebiasaan…aneh?”

Mahwa bisa dengan jelas mengetahui bahwa lawan bicaranya itu dibuat bingung dengan maksud dari kata-kata yang dia ucapkan. Gadis itu sepertinya agak risih untuk menjelaskan maksud ucapannya itu,karena mungkin akan terdengar sangat menyinggung ditelinga penduduk tetap Cina jika sampai mendengarnya. Dia memilih untuk memastikan keadaan dengan melempar pandang ke beberapa bagian didalam toko itu,sebelum akhirnya berbisik lembut dalam radius yang terbilang sangat dekat dengan seorang Jongdae. Dan untuk sekejap,lelaki itu menegak saliva dengan mata yang sedikit melebar serta badan yang dirasanya seakan mengeras. Kaku…

“Jujur saja,aku…Sering tak bisa menahan tawa setiap kali mendengarkan dialek para chinese ketika mengucapkan sesuatu. Aku akan menirukan apa yang mereka ucapkan dan…yah tertawa”gadis itu berujar riang “seperti tadi”lanjutnya

Mahwa menjauhkan kepalanya dari sosok Jongdae kemudian mengangkat jarinya,ditempelkan tepat didepan bibir ranumnya. Mengisyaratkan seorang Jongdae untuk menjadikan ‘rahasia’ keanehan seorang Mahwa itu sebagai rahasianya juga…

Mereka kemudian terkekeh… Hingga sosok Daniel memunculkan diri dihadapan mereka. Dengan seulas senyum manis,tatapan polos dan…Tangan yang kini menggenggam beberapa jenis mainan “Samchon..,bisakah aku mendapatkan semua mainan ini?”

Kali ini bukan lagi suara kekehan yang tertangkap oleh telinga seorang Jongdae,melainkan suara tawa yang baru didengarnya dari seorang Wu Mahwa… Tawa yang indah. Melebihi apapun…

Sosok itu..,mencuri perhatiannya,secara perlahan….

.

.

.

“Aku hanya berpikir mungkin kau akan kerepotan jika bocah itu terjaga nanti”

Setelah memuaskan hati bocah enam tahun itu,keduanya kini berada didalam mobil Kim Jongdae. Lelaki itu berkeras mengantarkan Mahwa dan Daniel,meski gadis itu sempat meyakinkan pada Jongdae bahwa dia kiranya cukup mampu untuk memastikan keselamatan perjalanan pulang mereka.

Jeosonghamnida,Jongdae-nim. Aku membuatmu repot”

“Ah,aniya. Lagipula aku yang menawarkan bukan? Jadi tak perlu berpikir aku akan direpotkan oleh hal seperti ini,Mahwa-sshi

“Tapi…”Untuk beberapa saat,gadis itu tampak ragu. Sibuk menimbang-nimbang. Dan Jongdae menyadari hal tersebut

Waeguraeyo,Mahwa-sshi?”

Keugae…”

Eoh?”

“Aku…Harus mengunjungi…Suatu tempat dulu,Jongdae-nim

.

.

.

“Ini…”Jongdae nampaknya cukup dibuat tercengang juga bertanya-tanya ketika turun dan menyaksikan langsung bangunan masjid di negeri Tirai Bambu ini. Ini pertama kalinya…

Dan Mahwa memberikan jawaban untuk tanya itu “Masjid,Jongdae-nim

“Mas…jid?”Jongdae mengulangi kata masjid itu. Dan Mahwa mengangguk sembari melempar senyum “iye

Mahwa tersenyum penuh arti ketika memandangi arsitektur masjid yang menyerupai sebuah kuil “ini masjid Niujie“ujar gadis itu

Jongdae ikut menatapi salah satu rumah ibadah bagi penganut islam. Kurang lebih seperti itulah penjelasan seorang temannya yang juga partner kerjanya. Lu Han

“Aku hanya pernah mendengar cerita tentang masjid di Cina,tapi belum satupun dari masjid dinegara ini yang pernah kulihat langsung dengan mataku”

Mahwa kembali tersenyum”eoh,jinjja?”

Ne,jinjjayo

Mahwa lantas menengok kebagian belakang mobil sebentar. Memastikan bahwa keponakannya itu masih dalam keadaan terlelap. Setelah itu dia baru menuruni mobil dan memasuki salah masjid terkenal di negeri tirai bambu tersebut.

Sementara itu Jongdae terus memperhatikan punggung gadis itu. Semakin menjauh dan kemudian menghilang setelah dia berbelok kearah kanan. Jongdae takkan bertanya lebih,karena ini bukan sesuatu yang kiranya patut dipertanyakan oleh penganut lain agama sepertinya. Ya,lebih baik berdiam diri didalam mobil dan menunggu hingga gadis itu selesai dengan urusannya.

Sambil menunggu,untuk menyingkirkan rasa jenuh yang mungkin saja akan dia rasakan,lelaki itu menurunkan sedikit posisi kursinya. Menyetel sesuai perkiraannya,agar nyaman. Lelaki itu kemudian melemaskan tubuhnya dan mulai menyandar pada kursi kemudi yang telah dia atur posisinya tersebut. Menjadikan satu tangannya sebagai bantal hingga kemudian beberapa potong kejadian yang telah lewat membayang di kepalanya.

Jongdae menghembuskan nafasnya. Seperti mendesah”Apa pernah…”Lelaki itu menatapi refleksi dirinya pada cermin kecil dibagian atas mobilnya “… Seorang Kim Jongdae memuji kecantikan seorang gadis?”Lelaki itu melanjutkan ucapannya,dengan beberapa kata yang merujuk pada sebuah pertanyaan. Untuk dirinya sendiri…

“Heih,sepertinya aku sudah gila”Jongdae mengacaki surai legamnya itu agak kasar. Gusar.

Jongdae mendesah “tapi… Dia benar-benar cantik”

Jongdae kembali memandangi bangunan masjid tersebut,sebelum akhirnya menundukkan kepalanya sembari menyandar pada setir mobil dengan pelipisnya. Sejenak dia terpikirkan sesuatu…

Apa pernah dia mengatakan cantik pada seorang wanita?

Jika tidak,berarti gadis berkerudung itu adalah yang pertama?

Dan jika dia yang pertama… Apa ini sebuah pertanda bahwa Kim Jongdae mulai menaruh hati pada seorang Wu Mahwa?

.

.

.

Masjid pada saat itu berada dalam keadaan sunyi,mengingat pada saat itu waktu shalat isya telah berlalu hampir dua jam. Tadi mereka harus menemani bocah Wu itu setelah dia sempat melupakan tujuan utamanya,mencari hadiah untuk calon ibu barunya. Choi Sulli….

Dan rasanya Mahwa telah berada didalam sana hampir setengah jam. Jongdae tak menyadari hal itu jika dia tak segera terjaga dari lelap. Karena Wu Daniel

Bocah itu kini mengusapi matanya “eum~~Samchon. Ajjuma kemana?”

Suara itu membuat Jongdae terjaga seketika. Langsung,namja itu berbalik,menoleh ke belakang kemudian tersenyum ” Mahwa ajjuma sedang menyelesaikan urusan didalam sana”lelaki itu menunjuk tepat kearah masjid Niujie.

“Ah…di masjid?”Daniel bergumam pelan,namun tak cukup pelan bagi Jongdae. Dia bisa mendengar itu

“Kau…tahu?”

“Eoh. Biasanya aku dan appa mengantarkan paman besar kesini. Katanya ingin beribadah”

“Wah… Daebak,Daniel-a! Kau tau banyak”

Aniya,samchon. Aku hanya mendengar itu dari appa. Katanya paman besar itu…”Daniel tampak memikirkan sesuatu. Cukup lama bocah itu sibuk berpikir hingga akhirnya memilih untuk menyerah “aku lupa,samchon! Tapi kata appa,tempat ibadah paman besar disini”

Arrayo,Daniel-ah“ujar Jongdae “samchon menger-”

Baru saja lelaki itu akan berbicara,sosok Mahwa tertangkap olehnya sedang berjalan menuju ke mobilnya. Dan akhirnya gadis itu benar benar telah berada di dalam. Duduk dikursi bagian depan “maaf aku membuatmu menunggu lama, Jongdae-nim

Gwenchanaseyo,Mahwa-sshi“ujarnya “lagipula aku tadi juga sekalian mengistirahkan mataku”

“Maaf…”

Jongdae menatap iris kelam tersebut “Mahwa-sshi… Sungguh,aku tidak mempermasalahkan itu”

Mata itu,selalu memancarkan sesuatu. Mahwa tak cukup mengerti,namun setiap berkesempatan bertatapan dengan mata itu… Selalu didapatinya ketulusan serta tatapan lain,yang entahlah… Tapi dia merasa itu tatapan yang amat bersahabat. Yang mengizinkannya untuk merasa tenang,tanpa mengkhawatirkan apapun,memikirkan apapun dan… Mengabaikan semuanya,kecuali mata itu.

“Mahwa-sshi?”

“Heum?”

Jongdae menundukkan wajahnya sebentar sembari menyentuh tengkuknya,sebelum kemudian menatapnya “aku merasa… Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu”

Mwo?”

“Ah… Tapi nanti saja”ujarnya “aku harus segera mengantarmu dan Daniel sekarang”

Mobil hitam itu perlahan menyisahkan kepulan asap yang kemudian menipis dengan cepat

*

“Maaf,Pó-fuAku mengantar mereka selarut ini”Jongdae kini membungkuk dihadapan Tuan Wu. Dia merasa tak enak hati karena baru saja mengantarkan Daniel dan Mahwa tepat pukul sebelas.

Tuan Wu tersenyum “haha,baiklah. Aku harusnya juga berterima kasih padamu,Jongdae. Kau telah memastikan Daniel dan anak gadisku selamat sampai dirumah”Ujar Tuan Wu seraya menggendong Daniel yang kembali terlelap dengan jempol tepat dimulutnya.

“Sekali lagi maaf, Pó-fu. Sungguh,ini takkan terjadi lagi”

“ya…Aku tahu itu”Ujar Tuan Wu. Pria itu lantas melempar senyum kepada putrinya “Ayo,berterima kasihlah kepada Kim Jongdae”ujarnya dengan bahasa Indonesia. Mahwa lantas mengangguk

“Jongdae-nim…Gamsahamnida

“Ah,aniya. Gwenchana

Tap tap… Terdengar langkah kaki yang membuat semuanya menatap sosok yang kemudian mereka ketahui adalah Kris,yang baru saja kembali setelah mengantar Sulli ke rumah sepupunya yang berada di Cina. Victoria

Eoh? Sepertinya aku ketinggalan sesuatu disini?”Kris melempar pertanyaan yang langsung disambut dengan senyuman oleh sang paman “Tidak. Jongdae hanya baru mengantar anakmu dan Mahwa dari kegiatan jalan-jalan mereka”

Kris memicing kearah Jongdae dan Mahwa. Memperhatikan keduanya secara bergantian “Apa mereka habis berkencan, Pó-fu?”Tanya Kris lagi. Dan kali ini,giliran dia yang ditatap oleh sang paman

Kris!

“Maaf, Pó-fu. Aku hanya bercanda”

“Masih bisakah kau bercanda dan membiarkan putramu tidur di pelukanku dan bukan di ranjang? Astaga~~”

Kris langsung tersenyum dan segera memindahkan putranya itu kedalam dekapannya. Dia—Kris lantas berbalik dan menepuk bahu Jongdae “Gamsahamnida,Jongdae-ya”ujarnya dengan bahasa korea

Eoh

Kris melangkah masuk ke dalam rumah,meninggalkan mereka

“Mahwa…Masuklah”

Gadis itu mengangguk dan melangkah masuk. Namun sebelum benar benar memasuki rumah tersebut,gadis itu melempar senyum pada Jongdae. Membuat lelaki itu membeku sesaat.

“Jongdae-nim…”

“Eoh?”

Xie-xie ni

Ucapan terima kasih itu menjadi penutup percakapan antara Jongdae dan Tuan Wu,sebelum lelaki itu masuk kedalam. Jongdae mendesah sebentar,kemudian mulai melangkah menuju mobil yang terparkir di seberang jalan. Lelaki itu memasukkan tangannya kedalam saku jas yang dikenakannya.

“J- Jongdae-nim!!!

Suara pintu yang membuka yang disusul cepat oleh suara yang memanggilnya,membuatnya menghentikan langkah lalu kemudian menoleh dengan cepat. Sosok Mahwa yang tengah berlari kecil tergambar jelas di iris kelamnya tersebut.

Lelaki itu terdiam menatapi sosok yang kini terengah itu “e-eoh...Mahwa-sshi?”

Merasa dipanggil namanya,gadis itu sontak menaikkan wajahnya. Menatap Kim Jongdae yang berdiri dihadapannya. Tak lupa,sebuah senyum menghiasi wajah cantiknya itu “Gamsahamnida

Suasana berubah hening sejenak,sebelum akhirnya suara lembut gadis itu memecah keheningan“Ya..sudah…Aku masuk dulu”Kata Mahwa. Gadis itu membungkuk beberapa detik sebelum akhirnya mulai melangkahkan kakinya. Dan Jongdae tersentak dengan gadis yang kini mulai melangkah,menjauhinya itu

“Mahwa-sshi?!”

Jongdae berhasil menghentikan langkah itu. Membuat mahwa menoleh “Eoh?”

“Setelah ini…Bisakah kita…Berteman?”

Dan untuk kesekian kali,senyum indah itu nampak diwajah cantiknya “Tentu, Jongdae-nim

Senyum itu…mulai memperjelas posisi seorang Wu Mahwa…Dihati Kim Jongdae… Sepertinya

***

zhǐnéng péi nǐ dào zhèlǐ

bìjìng yǒuxiē shì bù kěyǐ

chāoguò le yǒuqíng hái bùdào àiqíng

yuǎnfāng jiùyào xiàyǔ de fēngjǐng

***

Pada awalnya,hubungan itu seringkali menjadi canggung. Pertemanan keduanya terjalin dengan cepat (dalam waktu tak lebih dari dua puluh empat jam),sehingga baik Jongdae maupun Mahwa..,keduanya berusaha menyesuaikan diri dengan kawan baru. Dan kebanyakan…Ada peran bocah Wu didalam hubungan pertemanan itu.

“Eum…Mahwa-sshi?”

Suatu ketika,Jongdae mencoba langkah berani. Mungkin untuk mengatasi canggung dalam kedekatan mereka itu “Waeguraeyo,Jongdae-nim?”

“Eum…bagaimana jika kita mencari udara segar di… danau *Shichahai?”

Ajakan secara tiba-tiba itu kemudian membuat Mahwa mengerjap beberapa kali,sebelum kemudian mengiyakan… “heum. Baiklah”

Jinjja?”

Eoh”gumamnya “Jadi…Kapan waktunya? Agar aku bisa memberitahu Daniel dan dia bisa bersiap-siap”

Senang yang sedetik lalu mengisi hati Jongdae seketika hilang dengan pernyataan itu….

“Jongdae-nim?”

“e-eoh?”

“Jadi…Kapan?”

Jongdae tampak menunduk seraya menggaruki tengkuknya yang sama sekali tidak gatal itu “ahaha…Eum…”

Sementara keduanya tengah mengobrol di halaman belakang rumah Kris,tuan wu—ayah mahwa diam-diam memperhatikan gerik keduanya,lalu menyesap teh di cangkirnya sebelum akhirnya mendesah. Dan…Kembali,mata itu menatap ke sana.

“Apa menurut Pó-fu mereka cocok?”

Sebuah pertanyaan yang mengejutkan tuan wu. Beruntung,teh dalam cangkir itu tak sampai tumpah di pakaiannya “Yak~Kau membuat Pó-fu terkejut,Kris!”

Dan ayah dari Wu Daniel itu menampakkan senyumnya “Maaf, Pó-fu. Aku tidak tau Pó-fu akan terkejut seperti tadi”

“ya…”Ujarnya “jadi…apa maksud dari pertanyaanmu barusan,Kris?”

“ah…itu”Kris mengarahkan telunjuknya,tepat kearah Jongdae dan Mahwa yang tengah duduk di kursi yang ada di taman belakang “mereka…serasi,bukan?”

Sang paman kembali menyesap tehnya. Kali ini tak bersisa “Entahlah”

Pó-fu… Aku tau kau juga pasti sependapat denganku bukan?”

Sang paman tersenyum sekilas,dengan cangkir kosong disalah satu tangannya “Mungkin kau benar,Kris…”Paman Wu menepuk pundak Kris pelan. Membuat Kris menatapi sang paman “tapi… Tuhan sepertinya takkan sependapat dengan itu”

Kris memandangi punggung sang paman yang kini mulai menjauhinya,bergerak menuju dapur di rumah tersebut.Ada…Ada perasaan aneh,yang menyelimuti hati Kris pada saat itu. Ketika mata sang paman menatapnya,ketika suara sang paman berdengung ditelinganya,dan…Ketika sang paman mengatakan kata-kata itu…

Dia lantas menatap kearah Jongdae dan Mahwa ‘ketika cinta dan kepercayaan dipertemukan dalam satu keadaan…Apakah itu kemudian menjadi satu kemustahilan?’Kris berujar dalam hatinya. Lelaki keturunan Wu itu tersenyum tipis ketika matanya menangkap ekspresi Jongdae ketika itu. Dan rasanya dia telah cukup lama berteman dengan Jongdae,sehingga dengan cepat bisa mengartikan ekspresi seperti apa itu…

“Sibuk memperhatikan pasangan muda rupanya!”

Dia terlalu fokus memperhatikan sahabatnya itu hingga tak menyadari sosok Sulli yang hampir semenit telah berada disana. Mengikuti arah pandangnya

eoh,Ssul?! Kenapa kau datang tanpa memberitahu,eoh? Aku bisa menjemputmu!”

“Tidak perlu,tuan! Jika hanya jalan menuju rumahmu aku sudah sangat hapal!”

.

.

.

“j-jadi…Tadi maksudmu itu…Hanya kita berdua saja?!”

Dengan ekspresi canggung,Jongdae pun mengangguk. Lelaki itu sedikit melirik kearah Mahwa,mencoba melihat ekspresi apa yang ditunjukkan pemilik wajah yang mulai membayanginya itu…

Mata Jongdae menangkap pergerakan Mahwa yang sepertinya menujukkan gelagat orang yang sedang bingung. Mungkin wajar,mengingat ajakan Jongdae ini terkesan tiba-tiba. Apalagi tadi Mahwa sempat salah paham…

e-eoh”jongdae berujar lemah “tapi,setelah kupikir-pikir…”

“Jongdae-nim

Lelaki itu mengangkat wajahnya,menatap Mahwa “eoh?”

“maafkan aku,tapi…Aku tidak bisa jika hanya bersama denganmu saja”

n-ne?”

“Aku harus mengajak Daniel…”

Harus..? apa yang baru didengar Jongdae adalah kata ‘harus’. Kata yang tegas. Menuntut. namun sepertinya tak cukup bisa menegaskan maksud dari ucapan Mahwa barusan…

Wae? Tiga huruf itu yang ingin sekali dia ucapkan. Tiga huruf yang membentuk sebuah kata itu begitu ingin dilontarkan pada sosok yang kini terlihat mengerjap. Menunggui kata yang akan diucapkan lelaki itu… sepertinya

“Apa…Aneh jika lelaki yang baru saja menjadi temanmu ini mengajakmu untuk…Yah,berjalan-jalan? Atau kau sudah…”

“Bukan Jongdae-nim…”suara mahwa melirih “bukan seperti apa yang kau pikirkan”sambungnya

“lalu?”

“Aku berterima kasih untuk ajakanmu,tetapi…Ada yang takkan mengizinkanku melangkah pergi bersama dengan seorang pria”

“Siapa?”

Mata itu…Menatapnya penuh tanya

“Tuhan,Jongdae-nim

Lalu berhenti bertanya. Dan terdiam…tepat ketika gadis itu mengatakan hal tersebut. Tuhan…

***

àimèi ràng rén shòujìn wěiqu

zhǎobudào xiāng’ài de zhèngjù

héshí gāi qiánjìn héshí gāi fàngqì

lián yōngbào dōu méiyǒu yǒngqì

***

“Disini indah,samchon!!!

Wu Daniel,sepertinya bocah itu yang terlihat menikmati jalan jalan di danau Shichahai,salah satu dari beberapa tempat indah di Cina yang terkenal karena keindahannya. Dan sepertinya Mahwa membenarkan pernyataan itu. Matanya terus…Menatap ke sekeliling,melempar pandang hingga akhirnya terhenti selama beberapa saat ketika matanya menatap sosok yang berdiri disebelahnya,dengan mata memejam. Dan kemudian,Mahwa tersenyum

“Bagaimana menurutmu Mah–”

Baru saja lelaki itu selesai dengan kegiatan singkatnya—menikmati udara segar—dan langsung dibuat terkejut ketika mendapati matanya yang kini bertatapan dengan sosok Mahwa. Sepasang mata miliknya beradu dengan iris kelam gadis berkerudung tersebut.

Mahwa mengalihkan pandangannya “Maaf Jongdae-nim…”lantas dia berujar tanpa memandang Jongdae. Membuat lelaki itu terkejut,heran juga…Sedih?

“Percaya padaku…Aku benar benar tidak menyengajakan diri untuk menatapmu tadi. Aku minta maaf”

Mengapa gadis ini sepertinya memperlakukannya ‘berbeda’? Apa ini tentang sebuah kesalahan yang tidak dia sengaja kepada gadis itu? Ataukah mungkin….Gadis ini kurang merasa nyaman dengan mereka yang baru saja berteman? Atau yang terburuk menurut Jongdae…Dia telah menjadi milik seorang lelaki yang ada dimuka bumi ini?

Semua menjadi serba dipenuhi tanya…Tanya tentang seorang Wu Mahwa…Tentang Wu Mahwa yang sepertinya memperlakukannya dengan cara berbeda…Tentang semua yang terjadi baru-baru ini diantara mereka…Dan…Tentang bagaimana Mahwa bisa membuatnya seperti ini. Bertanya-tanya….

“Tolong katakan kalau memang kau sulit menerimaku”

Pernyataan yang tiba tiba meluncur dari mulut lelaki itu,sontak mengejutkan Mahwa. Membuat mata gadis itu membelalak “M-mwo?”

Jongdae mendesah pasrah lalu menatap lurus gadis itu “katakan padaku,agar aku tak lagi bingung Mahwa-sshi”

“Apa maksu-“

“Tak apa bila kemudian kau mengatakan kau tidak merasa nyaman dengan semua ini”

Ada perasaan lain yang dengan cepat memasuki hati seorang Wu Mahwa,ketika suara baritone Kim Jongdae memasuki rongga telinganya. Terlebih ketika mata itu menatapnya serius. Begitu lekat,hingga beberapa kali juga saliva yang ditelannya justru terasa mencekat… Sama sekali tidak melegakan…

“Jongdae…nim”

Suara Mahwa bergetar saat mencoba memanggil nama itu. Jongdae kemudian menatapnya. Suasana ditempat itu dengan cepat berubah hening,hanya suara hembusan angin yang melintas pelan yang mampu terdengar.

Keduanya saling melempar tatap sebelum Jongdae mulai berbicara “waeguraeyo?”

“Yang kulakukan itu… Bukan karena aku merasa tidak nyaman dengan kebersamaan ini”

“Lalu?”

“Aku hanya… Takut”

“Takut?”

“Aku takut pada-Nya…”

Nugu?”

Mahwa mendesah pelan,lalu kembali melanjutkan ucapannya “Tuhan”

Kata terakhir yang diucapkan Mahwa itu… Membuat hatinya bergetar… Seperti sebuah ketakutan mulai merasuk kedalam sanubarinya…

“Apakah Tuhan me-“jongdae tak melanjutkan pertanyaannya saat sosok Daniel berlari menghampiri mereka dengan berseru riang “samchon!!! Nuna!!!

Dan suara riang itu mengalihkan perhatian keduanya. Mereka menatap Daniel yang akhirnya berdiri dihadapan mereka dengan deretan gigi susunya yang berjajar rapih itu. Nafasnya sedikit terengah “aku menemukan sesuatu!”

Jongdae kemudian bertanya “apa itu,Daniel-a?”

Bocah itu tersenyum lalu mengulurkan sesuatu “igeo”

Jongdae dan Mahwa menatapi bocah Wu itu sekilas. Lalu Jongdae berbalik,menatap sosok Mahwa yang justru mengalihkan pandangan darinya,dan memilih menanyai bocah Wu itu “Daniel-a…Apa itu?”

Igeo,nuna..”

Lalu jemari mungil itu menyerahkan setangkai bunga ke tangan Mahwa. Semanggi empat helai…

Ujarnya seraya mengelusi pucuk kepala keponakannya “dimana kau menemukannya,Daniel-a?”

“Disana,nuna!“Tunjuknya “samchon yang disana… dia yang memberikannya padaku”

Mahwa mengikuti arah jemari Daniel,begitupun Jongdae. Namun,wajah Mahwa seketika menegang begitu mengenali siapa sosok yang persis ditunjukkan Daniel pada mereka. Tatapan Jongdae beralih dengan cepat pada gadis itu ketika tanpa sengaja nafas Mahwa yang seolah tercekat terdengar olehnya. Matanya kini menangkap jelas ekspresi Mahwa… Ketika Daniel kemudian berlari menghampirinya,membungkuk hormat lalu membuat sosok laki-laki itu menatap kearah mereka. Lebih tepatnya,menatap Mahwa dengan ekspresi yang tak kalah terkejutnya

Sebenarnya… Apa yang sedang terjadi?

Semuanya terasa membingungkan untuknya

.

.

.

Nuna!

Sejak tadi,gadis berjilbab itu tidak mengucapkan sepatah katapun. Sepertinya ada yang dia pikirkan,dan jongdae coba menerka-nerka. Meski dirinya sendiri juga tengah dipenuhi tanya tentang laki-laki yang tidak sengaja ditemui Daniel beberapa saat lalu. Laki-laki yang mengubah raut wajah Mahwa…

Entahlah,tetapi… Didalam benaknya,Jongdae sibuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak satupun dari kemungkinan-kemungkinan itu diharapkannya menjadi jawaban untuk semua tanyanya… Dia berusaha menjauhkan pemikiran itu,meski pada akhirnya usaha tersebut adalah sia-sia belaka manakala dia memandang tepat kearah Mahwa,dan teringat dengan raut wajah itu… Ekspresi terkejut yang amat kentara…

Nuna…” Dan suara Daniel mengalihkan Jongdae. Membuatnya menatap Daniel melalui kaca bagian depan mobilnya

Waeyo,Daniel-a?”Tanya Jongdae. Bocah Wu itu kemudian menatapnya

Nuna…,kenapa diam saja? Apa Daniel sudah menyakiti nuna,samchon?”

Jongdae kembali mengarahkan pandangannya pada Mahwa sebelum kemudian menatap Daniel kembali “Aniya,daniel-a…”Ucapnya lembut “Mahwa-sshi hanya sedikit pusing saja. Iya kan,Mahwa-sshi?”

Kali ini Mahwa tersentak dan mengalihkan pandangannya pada Jongdae setelah cukup lama menatap kearah jendela. “N-ne?”Mahwa menampakkan ekpresi bingungnya. Ditatapnya Jongdae dengan mata yang sedikit melebar “kau… Tadi mengatakan sesuatu,Jongdae-nim?”

Jongdae tak lantas memberinya jawaban. Laki-laki itu tiba-tiba menghentikan laju mobilnya tepat pada bagian kiri pada bibir jalan. Jongdae menatap kearah mahwa untuk sepersekian detik sembari tangannya bergerak menuju dahi gadis itu,hingga kemudian punggung tangannya telah mendarat tepat didahi gadis itu “nunamu… Eum..”Jongdae tampak seperti orang yang berpikir sebelum akhirnya berkata “dia baik-baik saja,Daniel-a”

Dan Jongdae berhasil meyakinkan Wu kecil itu….

***

dàodǐ gāi bù gāi kūqì

xiǎng tài duō shì wǒ háishi nǐ

wǒ hěn bù fúqì yě kāishǐ huáiyí

yǎnqián de rén shìbushì tóng yī ge zhēnshí de nǐ?
***

Memikirkan kejadian kemarin,membuat setumpuk dokumen dimeja kerjanya itu tak kunjung berkurang,malah bertambah dan semakin banyak. Masih begitu jelas di ingatan Jongdae bagaimana ekspresi seorang Mahwa ketika bertemu dengan sosok yang sepertinya Mahwa begitu mengenalnya. Tapi..,siapa dia? Dan apa hubungannya dengan Mahwa?

Semua pertanyaan itu semakin membuatnya pusing…

Tok tok… Terdengar ketuka pintu yang kemudian disahutinya “ya,silahkan masuk”

Dan sosok itu kemudian terlihat. Sang kakak dengan sosok yang tidak dia kenali berdiri tepat disisi kanan sang kakak, Minseok.

“Eoh,hyung…Kau rupanya”ujar Jongdae. Laki-laki itu menampakkan ulasan senyum tipis,sembari tetap menyentuh pelipisnya. Melihat apa yang dilakukan sang adik, kontan pertanyaan terlontar dari mulut Minseok

“yak,dongsaeng…Kau kenapa? Apa kau sakit?”

Jongdae menggeleng “aniyo,hyungnim”dia meyakinkan “aku baik-baik saja”

“Benarkah? Kenapa aku merasa kau sedang….”

Jongdae menyela sebelum kakaknya itu menginterogasinya lebih jauh. Untuk sekarang, paling tidak…Dia tidak ingin membicarakan tentang Mahwa pada kakaknya itu.

Hyung, siapa yang berdiri disampingmu itu?”tanya Jongdae, Minseok tersentak dan langsung tersenyum

“Dia putra tuan Hermawan,pengusaha yang ingin menjalin kerjasama dengan perusahaanmu”

Begitu mendengar nama Hermawan,kontan Jongdae mengarahkan perhatiannya pada sosok yang dimaksud kakaknya “Jadi anda yang…”

Jongdae terhenti seketika ketika matanya beradu dengan mata dari putra tuan Hermawan itu. Mata yang rasanya tidak asing…

“Tuan…yang bersama Mahwa kemarin?”

…Ya,Jongdae baru mengingatnya setelah mendengar lelaki itu menyebut nama Mahwa.

=End of Part 1=

Tentang FadilaHan

"Kenaliku melalui tulisan... Tulisanku."
Pos ini dipublikasikan di Drama, Family, religious, Romance, Sad dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s