Posted in Drama, Fanfiction, life, Romance, Sad

Feel Hard 2

feel hard part 2

Betapa sulit ketika cinta itu mulai tumbuh…

Betapa sulit ketika cinta itu mulai menuntut…

Dan

Betapa menyulitkan ketika aku sadar bahwa aku bisa atau tidak sama sekali memiliki tempat di hatimu

.

.

.

|| Title : Feel Hard… 2 || Author : Fadila Setsuji || Genre : Sad,Life,Romance,School || Length : MultiChapter || Cast : Seo Joo Hyun-Luhan-Kim Joonmyun-Jung Eunji-Sooyeon Jung-Donghae Lee-Chanyeol Park-Chorong Park-Seoulhyun Kim-Kwangmin Jo ||

.

.

.

Happy reading

.

.

=2015, Fadila Setsuji Present=

@london,2 hari sebelumnya

“Aku akan menetap di Seoul”

Wanita paruh baya itu melotot. Dari ekspresinya,nyata terlihat bahwa dia tidak sependapat dengan putranya itu.

“Tapi,bagaimana dengan perusahaan? Bukankah appamu akan mewariskannya padamu,Joonmyun-a?”Tanya sang ibu dengan kening mengerut. Joonmyun terkekeh pelan,lalu tersenyum.

“Bukankah kata eomma,aku adalah seorang lelaki yang hebat? Jadi,kupikir walau harus meninggalkan perusahaan dan memilih bekerja di Seoul,aku tetap bisa membuatmu bangga,eomma”

Sang ibu tersenyum,mengangguk kemudian mendekap erat putranya itu “makan yang banyak,kemudian datanglah bersama gadis baik yang kau cintai itu,arrayo?”

Joonmyun mengangguk dalam dekapan ibunya. Menumpahkan semua perasaan sayang pada sosok yang tengah mendekapnya dengan sayang itu. “Ne,arraseyo eomma”

.

.

.

“Jadi…,oppa akan pergi?”

Joonmyun tersentak mendengar suara itu. Park Chorong,gadis itu menatapnya sekilas sebelum kemudian menunduk. Joonmyun tahu betul kebiasaan itu,juga beberapa kebiasaan lain Chorong meski gadis yang kini mulai mengusapi matanya itu hanyalah saudara seayah dengannya.

Joonmyun tersenyum,lalu mendekap tubuh ringkih itu dengan lembut “kau menangis,Chorong-a? Eoh?”

Gadis bernama Chorong itu menggeleng dalam dekapan Joonmyun “ani. Aku sedang flu”

“Haha”

“Jangan tertawa!”

“Baiklah”

Joonmyun tak lagi mengatakan apapun,hanya mengelusi surai panjang gadis itu dengan lembut. Selain itu,melempar tanya pada Park Chorong ketika dia sedang menangis hanya akan membuat perut Joonmyun merasakan sakit akibat tinju yang dilayangkan adik tirinya itu. Dia tak pernah lupa untuk mengingatkan dirinya betapa menyeramkan rasa sakit oleh pukulan gadis tersebut.

Chorong perlahan melepas dekapan sang kakak tiri dengan lembut,menatapnya dengan mata yang masih berkaca sebelum berkata, “kkayo. Kau pasti ingin segera menemui gadis Seoul itu,bukan?”

“Namanya Seo Joo Hyun,Chorong-a”

“Memangnya aku peduli?!” Chorong menggerutu. Pandangannya mengarah pada mat Joonmyun lalu kemudian gadis itu mende “Dwaeso,kkayo (Terserah, pergilah)

“Kau mengusirku? Wah,sepertinya aku terlalu percaya diri barusan. Aku pikir kau akan menahanku”

“Konyol! Maldo Andwae! (tidak mungkin!) Aku dan Chanyeol tidak akan seperti itu padamu!”

Joonmyun tak menanggapi ucapan Chorong. Dia tahu,adik tirinya itu sesungguhnya bukan seseorang yang jahat. Dia hanya kesulitan mengekspresikan apa yang dia rasakan dengan baik. Kurang lebih… Sama seperti dirinya

Joonmyun tersenyum kemudian menepuk pucuk kepala Chorong dengan lembut lantas berbalik dan mulai beranjak dari sana. Namun,sebelum benar-benar pergi Joonmyun berhenti lalu menengok “bon voyage*” lalu dia berlalu. Kali ini Chorong bahkan mulai kehilangan punggung itu

Chorong mendesis “pabo! Dengan uangmu itu kau bahkan bisa mengunjungiku di Paris sebulan sekali!”

Jadi… Untuk apa mengucapkan kata perpisahan? Ah tidak,apa makna dibalik kata itu?

Bon voyage—goodbye

*

“Kau terkejut aku mengetahuinya,bukan?”

Park Seoulhyun baru saja melakukan hal menyebalkan dan mengucapkan kata-kata yang tak kalah menyebalkannya. Chanyeol—kakak gadis itu—harus memberi pijatan di pelipisnya berkali-kali agar tak sampai melancarkan niatnya untuk membungkam bungsu keluarga Park yang terkenal keras kepala itu.

Chanyeol mendengus “jadi?”

“Tentu saja bisa mengetahui kelanjutannya bukan,oppa!?”

Dan tindakan Park Seoulhyun yang ini agaknya cukup sulit untuk diterima akal sehat ataupun hati nurani sang kakak. Dia tak mau memaklumi,apalagi membenarkan sekalipun apa yang Seoulhyun dapati memanglah sebuah kenyataan dan bukannya dongeng.

Selanjutnya Chanyeol tak lagi mengatakan apa-apa,selain membiarkan dirinya terdiam menyaksikan senyum kemenangan sang adik yang kini berjalan menuju pintu ruang kerjanya yang terbuka itu lalu menghilang dari hadapannya.

Ini semua kesalahan anda,pak tua Kim!

Dan entah untuk kali keberapa,dia menyalahkan pria paruh abad yang berada di Tokyo itu. Pria yang dia panggil tuan Kim…Ayah kandungnya.

*

Joonmyun tidak langsung menuju ke rumahnya saat itu. Dia ingin menjelajahi beberapa tempat yang sering dia kunjungi di kota romantis ini. Meskipun mungkin tak akan kesini lebih sering,ingatannya akan beberapa tempat yang dia sukai tidak begitu saja hilang dari ingatannya.

Pertama,dia memilih untuk mengunjungi salah satu kedai pai kecil yang letaknya berada diantara area pertokoan yang membuat toko tersebut nyaris yang dapat ditemukan keberadaannya. Hanya Joonmyun dan mungkin beberapa pelanggan yang dia tahu salah satunya adalah seorang wanita dengan putri kecilnya yang barangkali menyadari keberadaan toko itu. Dari aroma pai yang menggugah.

Joonmyun terus membayangkan tempat tempat yang akan dia kunjungi ketika suara Kataoka menyadarkannya “Monsieur,kita sudah sampai”

Dan tuan muda itu tak lagi membuang waktu,segera turun dari mobilnya dan masuk ke dalam kedai pai yang ternyata tengah dipenuhi pelanggan itu.

Aroma pai yang menyambut di dalam ruang dengan banyak ornamen khas Jepang meskipun beberapa perabotan seperti set kursi dan meja serta desain interior yang dominan kayu,khas rumah yang biasa akan dijumpai didaerah pedesaan. Bagi Joonmyun,kedai ini adalah pembangkit ingatannya. Kenangan yang amat dirindukannya… Rumah mendiang nenek.

Jay yang mendapati Joonmyun yang baru saja masuk di kedainya itu untuk sesaat terkejut. Pasalnya dia mengetahui kabar dari salah satu keluarga kim yang terkenal menyebalkan—Park Seoulhyun—bahwa pria ini seharusnya akan berangkat ke Seoul. Tapi ini? Dia bahkan tidak kelihatan seperti orang yang akan bepergian,tetapi justru tak beda dengan Joonmyun yang biasa memesan pie disini.

Atau mungkin semua keluarga kaya terbiasa dengan kemudahan untuk bepergian kemanapun—termasuk melintas antar negara,yang tentunya jauh–selama mereka memiliki uang dan orang yang membutuhkan uang itu?

Jay tak mau memikirkan itu dan segera menyapa Joonmyun “hei. Kukira kau sudah pergi ke Seoul?”

“Belum. Aku harus mengunjungi kedai ini dan beberapa tempat lagi agar aku ingat dengan baik jika ke Paris nanti tempat-tempat inilah alasanku kembali”

Jay mendengus “dasar! Kau tahu,meski tempat lain mungkin akan digusur atau berganti pemilik karena gulung tikar tapi aku berani jamin hingga tiga tahun kedepan kedai paiku ini akan selalu disini”

Joonmyun terkikik geli mendengar ucapan Jay itu. Joonmyun memang selalu begitu setiap kali mendengar gaya bicara Jay yang menurutnya terdengar agak berbeda dengan orang Paris kebanyakan. Dia bisa mengucapkan nama Joonmyun berikut adik tirinya –yang kurang suka dengan owner kedai pai ini– dengan baik. Itu baginya adalah salah satu kelegaan,dan mungkin juga alasan sederhana mengapa hingga sekarang Joonmyun tak menemukan sahabat yang lebih baik di Perancis, selain Jay. Padahal untuk ukuran seorang lelaki Jay termasuk cerewet.

Bagi gadis? Mungkin dengan mengajak Park Seoulhyun para gadis akan langsung mengambil langkah mundur.

Oh iya,ngomong-omong… Dimana adik tiri Joonmyun itu?

“Jay…”

“Ya?”

“Kau melihat Park Seoulhyun?”Joonmyun menatap lelaki itu,melihat dengan jelas beberapa kerutan dipelipisnya sehingga dengan gugup dia segera menjelaskan maksud pertanyaannya

“Ah maksudku,kami tadi janjian disini dan aku tak melihatnya kecuali para pelangganmu. Aku tahu masalah kalian, kawan. Tapi aku menanyakan ini karena aku butuh kau untuk menemukannya disekitar sini”

“Kalau Park Seoulhyun…”Jay menggaruki tengkuknya lantas kembali melanjutkan ucapannya “…aku melihatnya… Eum,kau tahulah tindak tanduk gadis muda yang hiperaktif sepertinya yang- Aduh!”

Jay menatap tajam sosok yang kini menampakkan senyum kemenangan itu. Joonmyun terperangah “e-eoh… Seolhyun?!”

Gadis yang dia panggil Seolhyun itu kini mengganti senyum kemenangan yang tertuju pada sosok Jay Lavoice itu dengan senyum manis sebelum kemudian bergerak mendekati kakak tirinya “ya,ini aku oppa” ujarnya “hi”

Joonmyun segera tersenyum,dan Jay masih merengut.

“Kau kemana saja beberapa hari ini? Jangan bilang kau menginap di rumah Maddy karena diam diam bergabung dengan klub cheerleader sekolah? Bukankah bibi Park sudah melarang keras untuk kegiatan yang satu itu,Seol?!”

Mendengar pertanyaan–yang lebih terdengar seperti tuduhan–untuknya kontan Seoulhyun menganga dramatis. Dia cukup tahu kakak tirinya ini menyayanginya sekaligus seorang laki-laki yang benar-benar peduli padanya–sepengetahuannya begitu— Tetapi bagaimanapun,dituduh melakukan sesuatu yang sama sekali tidak dilakukan adalah hal menyebalkan bagi Park Seoulhyun.

Yak! Kau kira aku akan bertindak begitu lagi setelah insiden ibuku yang mendadak pingsan tahun lalu?!”Ujarnya dengan suara meninggi. Gadis itu mendesah “asal kau tahu,aku ini sibuk mengurusi beberapa keperluan untuk pindah,jadi…”

Joonmyun mengernyit “p-pindah?!”

“Eoh. Aku akan ke Jepang” ujarnya “jadi,anggap saja ini salam perpisahan kita kepada si lelaki bujang itu. Dan oh iya,aku juga sengaja mengundang mereka untuk meramaikan acara dikedai pai hari ini” Seoulhyun menunjuk beberapa orang yang Joonmyun tahu beberapa diantaranya bukan termasuk pelanggan setia kedai ini. Mungkin hanya kenalan Seoulhyun yang diajak gadis itu untuk bergabung.

Sementara itu,Jay itu dibuat bertanya-tanya dengan apa yang Seoulhyun bicarakan dengan Joonmyun. Termasuk satu kata terakhir yang menurut indera pendengarannya seperti sedang mengatainya. Mengatakan sesuatu yang kurang mengenakkan tentang dirinya.

Entahlah,tetapi dia tak pernah lupa bahwa Seoulhyun hampir tak pernah bertutur kata manis padanya… Karena dia telah membiasakan diri untuk mengartikan semua lontaran kata-kata gadis itu sebagai ucapan yang manis.

Bukankah sesuatu yang indah tak selalu terbungkus dengan sesuatu yang sama indahnya?

.

.

.

“Kau akan ke Seoul,bukan?”

“Iya. Lalu?”

“Aku ingin kau memberikan ini pada seseorang”

Joonmyun mengerjap beberapa kali ketika benda berbentuk tabung dengan lilitan pita hijau muda yang berada di genggaman Jay terulur padanya “ini… Untuk siapa?”

“Gadis yang pernah kau rekomendasikan sebagai mahasiswa magang disini. Kalian berteman baik,bukan?” Jaden menatap Joonmyun sebentar. Melihat lelaki itu yang sibuk memandangi layar ponselnya. Entah apa yang menarik didalamnya

“Joonmyun?”

Pikiran Joonmyun teralih pada sosok yang dimaksud Jay “Ah. Maaf.”Ujarnya “dia… Tunanganku” ujar Joonmyun kemudian.

Jay melotot “apa?! Jadi selama ini aku… Astaga!”

“Maaf merahasiakannya. Tapi,sungguh. Aku memiliki alasan pribadi sehingga tidak memberitahukan padamu sebelumnya” sesal Joonmyun

“Baiklah”ujar Jay. Lelaki itu mengangguk sebelum kemudian wajahnya dihiasi senyuman menggoda “jadi… Kapan kalau begitu kau membawanya ke Paris? Apa kau akan segera menikahinya?!”

Joonmyun menggeleng “Inginnya begitu,tapi… Aku harus memastikan sesuatu dulu”

“Mengenai tunanganmu?”

“Iya”

“Apa ini mengenai siapa pria yang pernah menjadi bagian dari cerita masa lalunya? Oh ayolah,teman! Masih pentingkah kau mencari tahu tentang perjalanan cinta tunanganmu? Itu sama artinya kau meragukan perasaanya! Kau ragu padanya!” Jay menunggu lelaki itu memberinya jawaban. Dipandanginya Joonmyun lekat,lalu keningnya terangkat begitu melihat senyum Joonmyun itu.

“Ya,mungkin kau benar Jay…”Joonmyun berujar “aku tidak tahu… Ah,bukan,aku hanya belum yakin jika dia… Benar-benar mencintaiku”

*

@Myeongdong,2 hari yang lalu…

“Baiklah Nick… Aku yang nanti akan menjemput Joonmyun. Kau tenang saja…”

“…”

“Bukankah katamu tunangannya di Myeongdong? Jadi,bisa saja tunangannya yang akan menjemputnya?”

“…”

“Mwo?! Dia tidak memberitahu tunangannya?! Bagaimana bisa?!”

“…”

“Ah..,jadi begitu?” Gadis itu mengangguk kemudian menjepit ponsel miliknya dengan bahu. Gadis itu sedang mengambil sesuatu dari tas tangan miliknya. Sebuah jam tangan antik.

Gadis itu tersenyum begitu memandangi jam tangan antik ditangannya.

“Mungkin bukan dalam waktu dekat…”Lirihnya “tetapi,bagaimanapun… Aku ingin bertemu denganmu” matanya kemudian menatap langit yang mulai dipenuhi gumpalan awan hitam. Hujan akan turun seperti yang laporan berita cuaca yang didengarnya pagi tadi.

Gadis itu kemudian melangkah pergi,namun hujan sudah lebih dulu turun sebelum dia mencapai halte bus sehingga membuatnya harus mencari area untuk berteduh. Sebuah toko kue dengan desain khas Eropa yang berada tepat di ujung pembelokan menjadi pilihannya. Dan aroma khas kopi yang dipanggang bersama dengan beberapa bahan kue yang tercium hingga luar membuat gadis itu terpanggil untuk mencicipi beberapa potong kue,terutama kue yang beraroma kopi itu. Takkan terjadi masalah untuk mencicipi beberapa potong kue sembari menunggu hujan reda?

*

“Sponge cake cappucino… Eum…” Sooyeon mengangguk-anggukan kepala dengan jemarinya yang menyentuh dagu. “Sepertinya bagus! Tidak buruk untuk percobaan pertama!” Kemudian dia menjentikkan jemarinya. Tersenyum ceria dan sukses mengundang penasaran dari salah satu karyawannya. Seorang lelaki bertubuh tinggi,kurus dengan potongan rambut yang menyerupai anggota boyband.

“Ada apa,owner?” Lelaki itu mengangkat alisnya. Diletakkannya tongkat pembersih lantai dan menghampiri sang boss “terjadi sesuatu?”

Sooyeon–sang owner— dengan cepat menggeleng “ah,aniya. Aku hanya terpikirkan menu baru untuk toko kue ini. Nanti aku akan mendiskusikan tambahan menu ini dengan Seohyun”

“Ah… Begitu rupanya”ujar sang karyawan “kukira mungkin saja kau berpikir untuk mengerjai Eunji atau…”

Sooyeon memicing “heih~~ Kau masih saja berniat mengerjainya,Jo Kwangmin?”Sooyeon menanyainya,dan lelaki bernama Kwangmin itu mengangguk

“tentu. Dia membuat teman kakakku itu menangis dan aku harus tidur di kafe karena dimarahi habis-habisan oleh ibuku!”

“Bukankah itu artinya kau lelaki yang cocok dengan Eunji,Kwangmin?”

“Hah!”Kwangmin mendesah kasar “dengan para nuna yang seksi dan cantik yang banyak diluar sana,mengapa harus dengan adikmu,owner?! Ya Tuhan,aku bahkan bisa gila hanya dengan membayangkan aku akan bersama dengan si monster cerewet itu dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam!” Kwangmin menggeleng “maaf saja owner. Tapi,tidak. Aku tidak akan pernah cocok dengan adikmu yang maniak foto itu!”

“Baiklah… Baik.”Sooyeon meletakkan dagunya diatas lemari kaca tempat kue,kemudian tersenyum “tapi jika nanti pikiranmu berubah dan kau menyukainya… Aku takkan ragu memberi restu karena kau bocah yang mengagumkan”

“Tidak akan”

Krriing

Hingga suara furin yang dipasang didepan pintu itu berdenting dan keduanya dengan segera menghentikan obrolan mereka dan menyapa seorang pelanggan “selamat datang…”

Dan pelanggan yang merupakan seorang gadis itu tersenyum “ah,ne…”Ujarnya “aku mencium aroma kopi. Aku ingin memesan kue itu. Sepertinya lezat”

Sooyeon terkejut. Mata gadis itu melebar kemudian dia menatap Kwangmin. Gadis itu berbisik “Kwangmin,aku belum cukup yakin dengan ini…”Ditunjuknya sebuah kue sponge dengan taburan bubuk kopi moka yang berada di meja “haruskah aku menghidangkannya?”

“Tentu” jawab lelaki itu pasti “sudah seharusnya kita hidangkan apa yang diinginkan pelanggan. Bukankah itu yang sering kau katakana padaku?”

“Iya,kau benar. Hanya saja…”

Kwangmin berjalan melewatinya,mengambil pisau lalu mengambil potongan kecil kue sponge yang dibawanya. Ditepuknya pundak Sooyeon “jangan cemaskan apapun,dan bawalah kue sponge ini pada tamu kita. Aku akan membuatkan teh untuknya”

“Heum! Arrayo

Sooyeon merasakan debaran pada jantungnya ketika melangkah mendekati pelanggan pertamanya itu. Seorang gadis dengan gaun selutut berwarna orange yang manis. Ah,potongan rambut agak ikal berhiaskan bando berpita itu semakin menambah kesan manis gadis tersebut. Dan samar-samar,Sooyeon teringat akan sosok lain yang pernah dilihatnya. Sosok yang sama dengan gadis itu…

Tapi dimana dia pernah melihat...

Sooyeon kemudian ingat! Dia baru akan memastikan ingatannya ketika tiba-tiba pandangannya tertuju pada pergelangan tangan gadis itu. Tepatnya pada jam antik di pergelangannya.

“Park… Chanyeol?” Sooyeon bergumam tanpa dia sadari. Membuat gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap Sooyeon sebentar

N-ne?”

Krriiingg

Furin (lonceng angin) kembali berdenting dan suara pintu yang menutup terdengar. Sosok gadis dengan kamera yang menggantung di perpotongan leher itu merutuk kemudian “aish! Cuaca kali ini benar-benar tak terduga. Eonni,kau… Eoh,ada tamu rupanya”

“Heih,si berisik datang lagi” kwangmin tiba tiba berceletuk. Gadis itu–Eunji menoleh cepat dan melempar tatapan sengit

Mwoya?! Aku mendengar itu dan aku benci ketika kau mengataiku berisik,dasar playboy kecil!”

“Apa katamu?!”

“Kau tuli sekarang? Apa karena terlalu sering mendengar para gadis SMA itu menjerit-jerit padamu? Hah!”

“Kau…”

Sooyeon tahu bahwa pertengkaran itu takkan berlangsung cepat,jika dia tak segera bergerak dan menghentikan mereka. Bisa saja,isi toko akan porak poranda dan itu kemungkinan terburuk yang bisa dibayangkan Sooyeon… Selain jam antik dan park chanyeol dengan pelanggannya itu.

Keundae,eonni… (ngomong-ngomong,kakak)” Suara gadis itu membuat Sooyeon menoleh. Senyum manis terukir diwajahnya ketika suapan pertama kue sponge ditelannya,lalu dia berkata “kue sponge di kafe ini benar-benar enak. Dan sepertinya tempat ini… Akan jadi kafe favoritku jika nanti berkunjung lagi ke Myeongdong. Pattisiernya sangat berbakat! Sugoi!

*

“Aku datang lagi… Joohyun-sshi

Mata Luhan memejam sesaat, membuka kembali lalu menatap sendu sebuah nisan putih bertuliskan Ahn Joohyun. Di kedua sisinya terdapat bunga krisan yang diletakkan didalam sebuah toples kaca mungil. Hari itu bertepatan dengan peringatan kematian Ahn Joohyun, sehingga Luhan memutuskan untuk mengunjungi makam gadis tersebut segera setelah tiba di Seoul.

Bunga krisan tersebut bergoyang karena embus angin. Dan hal itu membuat Luhan tersenyum. Ucapan Joohyun kembali diingatnya

Jika nanti kau melihat krisan bergoyang saat kau berbicara denganku, itu artinya aku mendengarmu dan bahagia karenanya

“Dan aku datang ke Seoul… Untuk menebus kesalahanku terhadapnya…”

Namja bermata cokelat itu beralih menatap ponsel miliknya. Pesan dari seseorang yang ditungguinya sejak tadi akhirnya muncul. Luhan bergerak, memperbaiki mantel yang dikenakannya lalu berdoa sebelum akhirnya beranjak dari makam tersebut.

Angin yang berembus hari itu cukup untuk menciptakan sensasi dingin yang menusuk. Sebenarnya. Tetapi, tubuh namja itu agaknya menjadi kebal. Tak terlihat dingin udara membuatnya merapatkan mantel ataupun sekedar menghangatkan jemari dengan menggesekkan tangannya.

Sakit dikarenakan penyesalan yang amat dalam… Jauh lebih menyakitinya dari apapun juga.

-TBC-

 

Penulis:

"Kenaliku melalui tulisan... Tulisanku."

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s